Suara hingar bingar memenuhi kelas seperti biasanya.. Aku dan
sahabatku Herma sedang duduk di sudut kelas sambil memainkan PSP yang
biasa aku bawa sembari menunggu datangnya guru. Disaat tengah asik
bermain tiba-tiba saja Andi Sang Ketua Kelas berlari memasuki ruangan
kelas. Dengan kecepatan kilat Aku segera menyimpan mainanku.
Pak Guru memasuki ruangan kelas dengan sesosok gadis bersamanya, gadis yang tidak pernah kutemui sebelumnya di sekolah ini. Dalam hati aku pun bertanya-tanya siapakah gadis tersebut. Tidak dapat aku palingkan wajahku dari pesona parasnya meskipun hanya satu detik.
Setelah selesai memperkenalkan gadis cantik itu, Pak Guru mempersilahkan dia untuk duduk. Aku pun memperhatikan langkah demi langkahnya yang semakin lama semakin dekat. Aku tak menyangka bahwa dia akan duduk di sampingku. Di pun menduduki bangku itu dan memberi senyum kecil kepadaku. Sontak aku langsung salah tingkah karena senyum menawannya itu.
Sudah hampir mau bel pulang sekolah, aku pun masih diam membisu tak dapat berkata apa-apa bagaikan diterpa salju di musim dingin.
Bel pun berdering menandakan waktu sekolah telah berakhir, suara yang bagi sebagian murid meruapakan alunan melodi yang indah tapi tidak untukku. Aku merasa sedikit sedih karena harus berpisah dengannya.
Kubulatkan tekadku, kusapa dirinya di depan gerbang sekolah sambil berjalan dengan sedikit keberanian yang kumiliki. “Hmhm.. Aku boleh kenalan gak sama kamu?” dengan sedikit terbata-bata kalimat itu meluncur dari mulutku. “Hahaha… boleh kok, nama aku Rena nama kamu siapa?” Jawabnya dengan suaranya termerdu yang pernah kudengar. “Namaku Faris, kamu murid baru ya disini?” tanyaku. “Iya, aku berasal dari SMP Al-Azhar” jawabnya. Dunia ini pun serasa milikku, tanpa dirasa mungkin karena obrolan ku dengannya sampai-sampai aku pun lupa waktu.
Keesokan harinya aku pun segera bergegas berangkat sekolah dengan perasaan berbunga-bunga ingin bertemu dengannya. Sesampainya ku di meja, yang kulihat hanyalah tasnya. Kucari dia ke kantin, UKS, halaman belakang tetap tak kulihat sosoknya, hingga akhirnya ku naik ke lantai atas menuju ke perpustakaan. Kulihat ia dengan rambutnya yang agak sedikit ikal kemerahan menutupi sebagian pipinya yang merona. Aku pun menghampirinya, “Hai.. Rena sedang apa?” aku bertanya dengan riang.
“Oh.. ini aku sedang membaca novel favoritku judulnya “Last Love In My Life” pokoknya bagus deh.” Jawabnya sambil sedikit tersenyum. Tak terasa bel masuk tinggal 5 menit lagi, aku dan dia segera kembali ke kelas.
Semakin lama aku dengan Rena pun semakin akrab dan dekat, komunikasiku dengannya tidak hanya di sekolah tetapi juga melalui media sosial.
Sudah hampir tiga minggu sejak pertama kali kedatangannya di sekolah ini. Dia pun sudah memliki banyak teman, mungkin karena sifatnya yang ramah dan murah senyum. Memang akhir-akhir ini perhatianku terhadapnya agak berkurang karena tugas bertubi-tubi yang diberikan sekolah.
Setelah tugas-tugas sekolah telah kutuntaskan entah mengapa rasa ini ingin sekali mengobrol berdua dengannya. Kebetulan bulan ini merupakan bulan Valentine kesempatan yang dapat kumanfaatkan. Disaat bel istirahat berdering aku pun langsung mencari-cari dia, kucari di halaman sekolah, UKS, dan perpustakaan tapi masih belum juga kutemui dia sampai akhirnya aku pun menuju kantin, satu-satunya tempat yang belum kudatangi. Memang sepertinya akan sulit mencarinya disini karena banyaknya murid lain yang lalu-lalang. Setelah mencari tuk beberapa menit, ku melihat sesosok gadis cantik di kejauhan sedang duduk bersama cowok lain, kuperhatikan lebih jelas ternyata itu memang Rena dan cowok itu sepertinya sangat dekat sekali dengannya. Hatiku ini yang awalnya senang langsung berubah 180 derajat menjadi sedih dan kecewa, serta sejujurnya cemburu juga. Rasanya seperti ada gunung kratakau lain dalam hatiku ini yang ingin meletus, yang lavanya sangat membara.
Disaat bel pulang sekolah berbunyi. Aku pun segera berjalan keluar kelas dengan wajah sedih, memang sejak tadi aku tidak ingin berbicara dengan Rena dan mendiaminya. Di gerbang sekolah kulihat cowok misterius itu lagi dengan Rena sedang berjalan bersama.
Mungkin karena rasa sabar ini telah habis, aku pun tanpa pikir panjang langsung menghampiri mereka. “Rena.. siapa cowok ini? Kenapa dia selalu bersama kamu?” Dengan nada sedikit kesal. “Aku tahu memang akhir-akhir ini aku kurang perhatian sama kamu!” ujarku. “Kamu.. jangan salah sangka dulu! Dia itu kakak kelas aku dulu ketika aku masih SD, jadi aku udah kenal dia dari dulu.. Lagi pula ada apa sih?” jawab Rena dengan sedikit kesal. “Sebenarnya aku itu cemburu, maafkan aku Rena.. Aku kira dia itu pacar barumu.” Jawabku dengan agak sedih dan nada yang mellow. “Sebenarnya aku itu suka kamu, aku sayang kamu! Dari awal aku melihatmu di kelas, ada perasaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya.” “Aku pun berpikir “Mungkinkah kau ini malaikatku?”.” Ujarku dengan sepenuh hati. “Tapi Rena, maukah kau menjadi malaikatku?” tanyaku dengan keraguan yang membayangi. “Hmhm.. Sebenarnya dari awal aku melihat kamu juga aku sudah menaruh hati, hanya saja aku enggak tahu cara untuk ngungkapinnya!”. Dan kuaanggap jawabannya itu sebagai YA..
Perasaan sedih dan kesal pun menjadi perasaan senang. Sejak hari itu hampir setiap hari aku selalu pulang bersamanya, bercanda dengannya, mengobrol dengannya. Kurasa apa yang di kata orang tentang “Cinta pada Pandang Pertama” itu memang benar adanya dan aku pun merasakannya, dan satu hal lagi mungkin ternyata dia itu benar-benar malaikatku.
Cerpen Karangan: Faris Rizqhilmi
Pak Guru memasuki ruangan kelas dengan sesosok gadis bersamanya, gadis yang tidak pernah kutemui sebelumnya di sekolah ini. Dalam hati aku pun bertanya-tanya siapakah gadis tersebut. Tidak dapat aku palingkan wajahku dari pesona parasnya meskipun hanya satu detik.
Setelah selesai memperkenalkan gadis cantik itu, Pak Guru mempersilahkan dia untuk duduk. Aku pun memperhatikan langkah demi langkahnya yang semakin lama semakin dekat. Aku tak menyangka bahwa dia akan duduk di sampingku. Di pun menduduki bangku itu dan memberi senyum kecil kepadaku. Sontak aku langsung salah tingkah karena senyum menawannya itu.
Sudah hampir mau bel pulang sekolah, aku pun masih diam membisu tak dapat berkata apa-apa bagaikan diterpa salju di musim dingin.
Bel pun berdering menandakan waktu sekolah telah berakhir, suara yang bagi sebagian murid meruapakan alunan melodi yang indah tapi tidak untukku. Aku merasa sedikit sedih karena harus berpisah dengannya.
Kubulatkan tekadku, kusapa dirinya di depan gerbang sekolah sambil berjalan dengan sedikit keberanian yang kumiliki. “Hmhm.. Aku boleh kenalan gak sama kamu?” dengan sedikit terbata-bata kalimat itu meluncur dari mulutku. “Hahaha… boleh kok, nama aku Rena nama kamu siapa?” Jawabnya dengan suaranya termerdu yang pernah kudengar. “Namaku Faris, kamu murid baru ya disini?” tanyaku. “Iya, aku berasal dari SMP Al-Azhar” jawabnya. Dunia ini pun serasa milikku, tanpa dirasa mungkin karena obrolan ku dengannya sampai-sampai aku pun lupa waktu.
Keesokan harinya aku pun segera bergegas berangkat sekolah dengan perasaan berbunga-bunga ingin bertemu dengannya. Sesampainya ku di meja, yang kulihat hanyalah tasnya. Kucari dia ke kantin, UKS, halaman belakang tetap tak kulihat sosoknya, hingga akhirnya ku naik ke lantai atas menuju ke perpustakaan. Kulihat ia dengan rambutnya yang agak sedikit ikal kemerahan menutupi sebagian pipinya yang merona. Aku pun menghampirinya, “Hai.. Rena sedang apa?” aku bertanya dengan riang.
“Oh.. ini aku sedang membaca novel favoritku judulnya “Last Love In My Life” pokoknya bagus deh.” Jawabnya sambil sedikit tersenyum. Tak terasa bel masuk tinggal 5 menit lagi, aku dan dia segera kembali ke kelas.
Semakin lama aku dengan Rena pun semakin akrab dan dekat, komunikasiku dengannya tidak hanya di sekolah tetapi juga melalui media sosial.
Sudah hampir tiga minggu sejak pertama kali kedatangannya di sekolah ini. Dia pun sudah memliki banyak teman, mungkin karena sifatnya yang ramah dan murah senyum. Memang akhir-akhir ini perhatianku terhadapnya agak berkurang karena tugas bertubi-tubi yang diberikan sekolah.
Setelah tugas-tugas sekolah telah kutuntaskan entah mengapa rasa ini ingin sekali mengobrol berdua dengannya. Kebetulan bulan ini merupakan bulan Valentine kesempatan yang dapat kumanfaatkan. Disaat bel istirahat berdering aku pun langsung mencari-cari dia, kucari di halaman sekolah, UKS, dan perpustakaan tapi masih belum juga kutemui dia sampai akhirnya aku pun menuju kantin, satu-satunya tempat yang belum kudatangi. Memang sepertinya akan sulit mencarinya disini karena banyaknya murid lain yang lalu-lalang. Setelah mencari tuk beberapa menit, ku melihat sesosok gadis cantik di kejauhan sedang duduk bersama cowok lain, kuperhatikan lebih jelas ternyata itu memang Rena dan cowok itu sepertinya sangat dekat sekali dengannya. Hatiku ini yang awalnya senang langsung berubah 180 derajat menjadi sedih dan kecewa, serta sejujurnya cemburu juga. Rasanya seperti ada gunung kratakau lain dalam hatiku ini yang ingin meletus, yang lavanya sangat membara.
Disaat bel pulang sekolah berbunyi. Aku pun segera berjalan keluar kelas dengan wajah sedih, memang sejak tadi aku tidak ingin berbicara dengan Rena dan mendiaminya. Di gerbang sekolah kulihat cowok misterius itu lagi dengan Rena sedang berjalan bersama.
Mungkin karena rasa sabar ini telah habis, aku pun tanpa pikir panjang langsung menghampiri mereka. “Rena.. siapa cowok ini? Kenapa dia selalu bersama kamu?” Dengan nada sedikit kesal. “Aku tahu memang akhir-akhir ini aku kurang perhatian sama kamu!” ujarku. “Kamu.. jangan salah sangka dulu! Dia itu kakak kelas aku dulu ketika aku masih SD, jadi aku udah kenal dia dari dulu.. Lagi pula ada apa sih?” jawab Rena dengan sedikit kesal. “Sebenarnya aku itu cemburu, maafkan aku Rena.. Aku kira dia itu pacar barumu.” Jawabku dengan agak sedih dan nada yang mellow. “Sebenarnya aku itu suka kamu, aku sayang kamu! Dari awal aku melihatmu di kelas, ada perasaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya.” “Aku pun berpikir “Mungkinkah kau ini malaikatku?”.” Ujarku dengan sepenuh hati. “Tapi Rena, maukah kau menjadi malaikatku?” tanyaku dengan keraguan yang membayangi. “Hmhm.. Sebenarnya dari awal aku melihat kamu juga aku sudah menaruh hati, hanya saja aku enggak tahu cara untuk ngungkapinnya!”. Dan kuaanggap jawabannya itu sebagai YA..
Perasaan sedih dan kesal pun menjadi perasaan senang. Sejak hari itu hampir setiap hari aku selalu pulang bersamanya, bercanda dengannya, mengobrol dengannya. Kurasa apa yang di kata orang tentang “Cinta pada Pandang Pertama” itu memang benar adanya dan aku pun merasakannya, dan satu hal lagi mungkin ternyata dia itu benar-benar malaikatku.
Cerpen Karangan: Faris Rizqhilmi
01.01
Unknown


0 komentar:
Posting Komentar