Masa Orientasi Siswa Baru (MOS) telah usai. Putri kini telah
beradaptasi dengan lingkungan barunya. Dia sudah mempunyai banyak teman
baru disana. Kini dia mempunyai teman akrab di kelasnya yaitu Ais, Erna,
Ani, Indi, Ari dan Fela. Mereka sering bermain bersama saat jam
istirahat tiba. Awalnya hanya teman ngobrol biasa. Tetapi, mungkin
karena sering main bersama mereka semua seperti membentuk gank. Tetapi
mereka semua juga akrab dengan teman-teman sekelas yang lainnya. Hanya
mereka bertujuh lebih sering ngumpul bareng saat jam istirahat. Setelah
sepulang sekolah mereka sering main ke rumah masing-masing bergantian
sekedar dolan ingin tau tempat tinggalnya.
Suatu hari saat jam pelajaran kosong, suasana ruangan sangat ramai. Namun entah mengapa Putri duduk terdiam di bangkunya. Sedangkan teman-teman lainnya pada asyik ngobrol-ngobrol dengan serunya menikmati jam pelajaran yang kosong itu. Lamunannya buyar saat seorang teman menyapanya.
“Put, lagi kenapa kamu?” tanya Erna.
“Eh, eng.. aku nggak apa-apa kok cuma lagi agak ngantuk aja.” jawab Putri yang sedikit kaget.
“Kenapa, semalem abis begadang?” tanya Erna lagi.
“Ya enggak juga sih.” jawab Putri singkat.
“Oh, ya udah kalau begitu tidur aja sebentar lagian jam pelajaran lagi kosong.” saran Erna.
“Iya oke deh.” jawab Putri.
Lalu Erna pun meninggalkan Putri duduk terdiam di bangkunya kembali ngobrol-ngobrol dengan temannya. Sebenarnya Putri lagi merasa jenuh saja. Dia ingin ada yang antar jemput sekolahnya. Selama ini dia berangkat sekolah diantar ayahnya sekalian berangkat kerja. Pulangnya dia harus naik angkutan umum sendiri. Apa lagi dari sekolahnya harus naik angkutan umum tiga kali untuk sampai ke rumahnya. Dan tak jarang dia pun sering pulang telat.
Hari demi hari dia tetap menjalani sekolahnya seperti biasa. Dan di suatu hari waktu sepulang sekolah ada perasaan berbeda di hatinya. Sedang jenuh-jenuhnya karena sudah lama menunggu angkutan umum yang terakhir untuk sampai ke rumahnya. Putri menggerutu di dalam hatinya, “Mana sih angkutannya nggak lewal-lewat mana perutku udah laper banget lagi.” Dia memang sudah lama menunggu angkutan umum jurusannya sekitar setengah jam yang lalu.
Tak lama kemudian angkutan umum yang ditunggu-tunggu datang juga. Segera dilambaikan tangannya ke arah angkutan tadi. Angkutan tersebut pun berhenti di depannya. Dia segera naik ke dalam dan duduk di dekat pintu. Tak sengaja Putri melihat sorot mata bening di sebelahnya. Seorang cowok tampan tinggi putih seperti keturunan cina karena matanya yang sipit. Sejenak jantungnya seakan berhenti berdetak ketika menatap sorot mata bening itu. Seakan merasakan ada sebuah benih cinta yang tumbuh di dalam hatinya. Ya, cinta pada pandangan pertama.
Sejenak Putri dan mata bening itu saling bertatapan namun Putri segera mengalihkan pandangannya. Di dalam hatinya dia berkata, “Ganteng banget cowok ini. Mimpi apa aku semalem bisa ketemu cowok ganteng kaya gini.”
Sesampai di rumah, Putri masih terbayang-bayang wajah cowok tampan itu. Di kamarnya dia senyum-senyum sendiri membayangkan cowok itu. Dia berharap semoga setiap sepulang sekolah bisa seangkutan bareng cowok itu. Semenjak itulah rasa bosan yang menyelimuti hati Putri hilang begitu saja. Malah dia nampak semangat berangkat sekolah dan pulang naik angkutan umum sangat ditunggu-tunggu. Tak lupa Putri menceritakan pertemuannya dengan seorang cowok tampan itu ke teman akrabnya yang bernama Erna.
Waktu yang dinanti-nanti pun tiba. Bel sekolah berbunyi menandakan waktu belajar mengajar telah usai. Semua siswa berbondong-bondong keluar dari sekolahan. Putri nampak semangat untuk cepat-cepat pulang ke rumah. Ada harapan di dalam wajahnya. Ya, di dalam hatinya berharap semoga nanti bisa bertemu cowok tampan yang kemarin. Dari kejauhan terlihat angkutan yang sedang ditunggunya melaju. Putri terlihat gelisah dan jantungnya pun berdebar kencang. Harapan untuk bertemu dengan cowok tampan itu sangat besar. Dilambaikan tangannya ke arah angkutan tadi dan Putri pun bergegas masuk ke dalam. Terlihat sepasang mata bening sedang duduk di pojok belakang asyik bercakap-cakap dengan temannya. Putri menatap sebentar dan ternyata sepasang mata bening itu adalah cowok tampan kemarin. Tapi Putri belum yakin yang barusan dilihatnya. Kemudian Putri menatap kembali cowok tadi. Ternyata memang benar cowok itu adalah cowok tampan yang kemarin. Hatinya seolah berbunga-bunga bisa bertemu kembali cowok tampan itu.
Keesokan harinya Putri menceritakan kembali pertemuannya dengan teman akrabnya yaitu Erna. Setibanya di sekolah memanggil Erna.
“Er, sini sebentar.” ajak Putri.
Kemudian diraih tangan Erna menuju ke samping kelasnya.
“Ada apa sih Put?” tanya Erna.
Tidak biasanya Putri bersikap seperti itu.
“Tau nggak Er, kemaren aku seangkot lagi sama cowok ganteng itu. Pokoknya aku seneng banget.” celoteh Putri dengan senyum-senyum centilnya. Putri nampak sangat gembira.
“Kaya apa sih cowok itu aku jadi penasaran.” Erna penasaran.
“Pokoknya ganteng banget deh.” jawabnya meyakinkan.
Bel masuk telah berbunyi, waktu belajar mengajar segera dimulai. Wajah Putri nampak berseri-seri masih terbayang cowok tampan pujaannya. Terkadang sering tidak fokus dalam pelajarannya.
Sekarang hampir setiap sepulang sekolah Putri bisa seangkot bareng cowok tampan pujaannya. Ingin rasanya bisa berkenalan dan tahu namanya. Kebetulan Putri seangkot dengan cowok pujaannya dan lagi memakai baju identitasnya. Ternyata dia bersekolah di sebuah STM terkenal di kotanya. Di bajunya terpasang nama lengkapnya. Putri colong-colongan menyelidik tulisan nama lengkap di bajunya. Dibacanya tulisan di bajunya dan ternyata dia bernama NARWOTO.
“Ganteng banget sih kamu… apa lagi kalau lagi senyum. Idih manisnya…” Putri berkata dalam hatinya.
Di sekolah Putri menceritakan lagi pertemuannya dengan cowok pujaannya.
“Er, kemaren aku ketemu lagi sama cowok itu. Sekarang aku udah tau namanya.” cerita Putri.
“Sapa namanya?” Erna penasaran.
“Namanya NARWOTO.” jawab Putri.
“NARWOTO?!” Erna nampak kaget dan tak percaya dengan nama itu. Mungkin karena namanya terlalu tua untuk anak muda jaman sekarang.
“Siapa Put?” tiba-tiba Esti yang sedari tadi di sebelahnya mendengarkan percakapan Putri dan Erna melontarkan pertanyaan. Dari raut wajahnya sepertinya Esti mengenali nama yang barusan Putri sebutkan.
“Narwoto. Emangnya kenapa Es?” tanya Putri.
“Narwoto yang anaknya putih, agak kurus terus matanya sipit bukan?” tanya Esti menyelidik.
“Iya Es, memangnya kamu kenal sama dia?” Putri jadi penasaran.
“Ya iya lah dia temen SMP aku tau.” jawab Esti.
“Terus dia anak mana sih? Dia ganteng banget ya Es..?” Putri makin penasaran.
“Dia tetangga desa aku. Iya memang dia ganteng. Dulu waktu SMP banyak disukai sama cewek-cewek. Apa lagi kakaknya yang cewek cantik banget terus putih ya kaya Woto itu. Aku juga punya fotonya Woto.” Esti menjelaskan.
“Masa? Aku minta donk, besok dibawa ya..” Putri mengharap.
“Insya Allah. Tapi fotonya lagi bareng sama temen-temen pas study banding.” jawab Esti.
“Ya nggak apa-apa yang penting ada Woto.” jawab Putri dengan senyumnya.
Esok harinya Putri menagih janjinya kepada Esti. Dimintanya foto Woto dari tangan Esti.
Sudah beberapa hari ini Putri tidak bertemu Woto lagi di angkot. Di hatinya ada rasa kangen karena lama tidak melihat wajahnya yang tampan. Oh Tuhan ada apa ini? Apakah ini yang dinamakan cinta. Dan sejak kapan Putri tau tentang cinta? Bukankah dia tah pernah merasakan cinta. Dulu waktu di SMP dia banyak disukai cowok-cowok tetapi dia tidak pernah memberikan respon apa-apa. Apa mungkin dia belum ingin mengenal cinta atau dia belum menemukan seseorang yang mampu mengisi hatinya? Tapi mengapa dia memilih seseorang yang baru dia kenal dan belum tahu betul karakternya. Tetapi itulah yang sedang Putri rasakan. Entah itu perasaan apa dan bagaimana datangnya.
Hari ini mungkin Putri bernasib mujur. Seketika rasa kangen itu hilang dari hatinya. Setelah melambaikan tangannya ke arah angkutan dan mau masuk ke dalam, Putri sempat terkejut melihat semua penumpang cowok-cowok anak sekolah semua. Satu di antaranya adalah Woto. Ternyata semua cowok-cowok itu adalah teman Woto. Putri hanya duduk terdiam karena malu. Tak lama kemudian salah satu di antara mereka meminta kenalan. Woto pun mulai menggoda Putri meminta kenalan. Tadinya Putri hanya diam tidak merespon permintaan perkenalannya. Tetapi setelah salah satu di antaranya menyebut namanya, Putri akhirnya mau angkat suara. Satu per satu Putri berjabat tangan dengan mereka. Putri tak mengerti mengapa mereka tahu namanya, tetapi tak peduli mereka tahu namanya dari mana. Baginya bisa berkenalan dengan Woto itu sudah sangat bahagia. Mungkin menjadi kenangan yang tidak akan pernah dilupakan.
Woto sempat meminta nomor Hpnya dan Putri pun memberikannya. Sejak itulah kedekatan Woto dan Putri mulai terjalin. Setiap sepulang sekolah Woto selalu menghubunginya melalui SMS atau menelpon sekedar ngobrol sebentar. Putri merasakan kalau Woto sepertinya juga menyukainya. Bukanya GR tapi kelihatannya seperti itu. Tetapi Putri belum yakin dengan perasaannya. Apa mungkin cowok setampan Woto naksir sama aku?
Di kamarnya Putri masih muter-muter kaya obat nyamuk sambil megangin kepalanya. Dia masih tidak percaya dengan yang barusan didengarnya. Rasanya seperti mimpi, mencoba mencubit pipinya sendiri tapi rasanya sakit sekali. Ini memang nyata bukan halusinasi semata. Ternyata perasaannya selama ini benar kalau Woto pun menyimpan perasaan yang sama. Tadi Woto nembak Putri walaupun nggak ngomong langsung hanya lewat telepon. Dia tidak langsung memberikan jawaban, butuh waktu untuk menjawab katanya. Woto juga mengerti dengan keputusan Putri dan memberikan waktu untuk menjawabnya. Putri masih bingung harus menjawab apa. Dia memang mencintai Woto tapi apa ini semua tidak terlalu cepat untuk menjalin hubungan. Woto dan Putri memang belum terlalu lama saling mengenal mungkin sekitar 6 bulan. Mereka berdua pun jarang bertemu, komunikasi hanya lewat ponselnya.
Di kelasnya Putri curhat dengan Esti, dia menceritakan semuanya. Memang selama ini Erna dan Esti lah yang tahu tentang kedekatannya dengan Woto. Sedikit ingin mengetahui karakternya, secara Esti lah yang pernah sekolah bareng Woto malah 3 tahun sekelas terus. Putri meminta pendapat Esti, katanya diterima saja Woto itu anaknya baik dan pengertian.
Setelah beberapa hari Putri menunda jawabannya akhirnya dia menerima cintanya. Kini Putri dan Woto sudah resmi jadian. Sudah beberapa bulan menjalani hubungannya nampaknya kegembiraan masih nampak di wajahnya. Saling percaya dan memahami itu lah yang menjadi kunci hubungannya selama ini. Mereka sangat menikmati masa pacarannya. Setiap malam minggu atau hari minggu mereka menyelakan waktu sedikit sekedar mencari udara segar membuang penat dan melepaskan rasa kangennya. Hubungan mereka terlihat sangat romantis. Mungkin mereka telah menemukan tambatan hatinya yang selama ini diidamkan. Bahagia selalu terlukis di senyum manisnya. Ternyata cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Teman-temannya kadang merasa iri dengan hubungannya yang romantis. Putri tersenyum dan menjawab hanya satu kuncinya saling percaya.
Di buku diarinya Putri menulis, mungkin ini yang pertama kalinya dia membuat kata-kata indah.
“Memandangmu adalah suatu anugrah bagiku,
Mengenalmu adalah suatu kebanggaan bagi diriku,
Memanggil namamu adalah suatu keindahan bagi hatiku,
Mendengar suaramu adalah kedamaian bagi jiwaku,
Bagiku kau lah lelaki yang terhebat dalam hidupku,
Dan kan selalu ada dalam hatiku.”
SELESAI
Cerpen Karangan: Liana Suci R
Suatu hari saat jam pelajaran kosong, suasana ruangan sangat ramai. Namun entah mengapa Putri duduk terdiam di bangkunya. Sedangkan teman-teman lainnya pada asyik ngobrol-ngobrol dengan serunya menikmati jam pelajaran yang kosong itu. Lamunannya buyar saat seorang teman menyapanya.
“Put, lagi kenapa kamu?” tanya Erna.
“Eh, eng.. aku nggak apa-apa kok cuma lagi agak ngantuk aja.” jawab Putri yang sedikit kaget.
“Kenapa, semalem abis begadang?” tanya Erna lagi.
“Ya enggak juga sih.” jawab Putri singkat.
“Oh, ya udah kalau begitu tidur aja sebentar lagian jam pelajaran lagi kosong.” saran Erna.
“Iya oke deh.” jawab Putri.
Lalu Erna pun meninggalkan Putri duduk terdiam di bangkunya kembali ngobrol-ngobrol dengan temannya. Sebenarnya Putri lagi merasa jenuh saja. Dia ingin ada yang antar jemput sekolahnya. Selama ini dia berangkat sekolah diantar ayahnya sekalian berangkat kerja. Pulangnya dia harus naik angkutan umum sendiri. Apa lagi dari sekolahnya harus naik angkutan umum tiga kali untuk sampai ke rumahnya. Dan tak jarang dia pun sering pulang telat.
Hari demi hari dia tetap menjalani sekolahnya seperti biasa. Dan di suatu hari waktu sepulang sekolah ada perasaan berbeda di hatinya. Sedang jenuh-jenuhnya karena sudah lama menunggu angkutan umum yang terakhir untuk sampai ke rumahnya. Putri menggerutu di dalam hatinya, “Mana sih angkutannya nggak lewal-lewat mana perutku udah laper banget lagi.” Dia memang sudah lama menunggu angkutan umum jurusannya sekitar setengah jam yang lalu.
Tak lama kemudian angkutan umum yang ditunggu-tunggu datang juga. Segera dilambaikan tangannya ke arah angkutan tadi. Angkutan tersebut pun berhenti di depannya. Dia segera naik ke dalam dan duduk di dekat pintu. Tak sengaja Putri melihat sorot mata bening di sebelahnya. Seorang cowok tampan tinggi putih seperti keturunan cina karena matanya yang sipit. Sejenak jantungnya seakan berhenti berdetak ketika menatap sorot mata bening itu. Seakan merasakan ada sebuah benih cinta yang tumbuh di dalam hatinya. Ya, cinta pada pandangan pertama.
Sejenak Putri dan mata bening itu saling bertatapan namun Putri segera mengalihkan pandangannya. Di dalam hatinya dia berkata, “Ganteng banget cowok ini. Mimpi apa aku semalem bisa ketemu cowok ganteng kaya gini.”
Sesampai di rumah, Putri masih terbayang-bayang wajah cowok tampan itu. Di kamarnya dia senyum-senyum sendiri membayangkan cowok itu. Dia berharap semoga setiap sepulang sekolah bisa seangkutan bareng cowok itu. Semenjak itulah rasa bosan yang menyelimuti hati Putri hilang begitu saja. Malah dia nampak semangat berangkat sekolah dan pulang naik angkutan umum sangat ditunggu-tunggu. Tak lupa Putri menceritakan pertemuannya dengan seorang cowok tampan itu ke teman akrabnya yang bernama Erna.
Waktu yang dinanti-nanti pun tiba. Bel sekolah berbunyi menandakan waktu belajar mengajar telah usai. Semua siswa berbondong-bondong keluar dari sekolahan. Putri nampak semangat untuk cepat-cepat pulang ke rumah. Ada harapan di dalam wajahnya. Ya, di dalam hatinya berharap semoga nanti bisa bertemu cowok tampan yang kemarin. Dari kejauhan terlihat angkutan yang sedang ditunggunya melaju. Putri terlihat gelisah dan jantungnya pun berdebar kencang. Harapan untuk bertemu dengan cowok tampan itu sangat besar. Dilambaikan tangannya ke arah angkutan tadi dan Putri pun bergegas masuk ke dalam. Terlihat sepasang mata bening sedang duduk di pojok belakang asyik bercakap-cakap dengan temannya. Putri menatap sebentar dan ternyata sepasang mata bening itu adalah cowok tampan kemarin. Tapi Putri belum yakin yang barusan dilihatnya. Kemudian Putri menatap kembali cowok tadi. Ternyata memang benar cowok itu adalah cowok tampan yang kemarin. Hatinya seolah berbunga-bunga bisa bertemu kembali cowok tampan itu.
Keesokan harinya Putri menceritakan kembali pertemuannya dengan teman akrabnya yaitu Erna. Setibanya di sekolah memanggil Erna.
“Er, sini sebentar.” ajak Putri.
Kemudian diraih tangan Erna menuju ke samping kelasnya.
“Ada apa sih Put?” tanya Erna.
Tidak biasanya Putri bersikap seperti itu.
“Tau nggak Er, kemaren aku seangkot lagi sama cowok ganteng itu. Pokoknya aku seneng banget.” celoteh Putri dengan senyum-senyum centilnya. Putri nampak sangat gembira.
“Kaya apa sih cowok itu aku jadi penasaran.” Erna penasaran.
“Pokoknya ganteng banget deh.” jawabnya meyakinkan.
Bel masuk telah berbunyi, waktu belajar mengajar segera dimulai. Wajah Putri nampak berseri-seri masih terbayang cowok tampan pujaannya. Terkadang sering tidak fokus dalam pelajarannya.
Sekarang hampir setiap sepulang sekolah Putri bisa seangkot bareng cowok tampan pujaannya. Ingin rasanya bisa berkenalan dan tahu namanya. Kebetulan Putri seangkot dengan cowok pujaannya dan lagi memakai baju identitasnya. Ternyata dia bersekolah di sebuah STM terkenal di kotanya. Di bajunya terpasang nama lengkapnya. Putri colong-colongan menyelidik tulisan nama lengkap di bajunya. Dibacanya tulisan di bajunya dan ternyata dia bernama NARWOTO.
“Ganteng banget sih kamu… apa lagi kalau lagi senyum. Idih manisnya…” Putri berkata dalam hatinya.
Di sekolah Putri menceritakan lagi pertemuannya dengan cowok pujaannya.
“Er, kemaren aku ketemu lagi sama cowok itu. Sekarang aku udah tau namanya.” cerita Putri.
“Sapa namanya?” Erna penasaran.
“Namanya NARWOTO.” jawab Putri.
“NARWOTO?!” Erna nampak kaget dan tak percaya dengan nama itu. Mungkin karena namanya terlalu tua untuk anak muda jaman sekarang.
“Siapa Put?” tiba-tiba Esti yang sedari tadi di sebelahnya mendengarkan percakapan Putri dan Erna melontarkan pertanyaan. Dari raut wajahnya sepertinya Esti mengenali nama yang barusan Putri sebutkan.
“Narwoto. Emangnya kenapa Es?” tanya Putri.
“Narwoto yang anaknya putih, agak kurus terus matanya sipit bukan?” tanya Esti menyelidik.
“Iya Es, memangnya kamu kenal sama dia?” Putri jadi penasaran.
“Ya iya lah dia temen SMP aku tau.” jawab Esti.
“Terus dia anak mana sih? Dia ganteng banget ya Es..?” Putri makin penasaran.
“Dia tetangga desa aku. Iya memang dia ganteng. Dulu waktu SMP banyak disukai sama cewek-cewek. Apa lagi kakaknya yang cewek cantik banget terus putih ya kaya Woto itu. Aku juga punya fotonya Woto.” Esti menjelaskan.
“Masa? Aku minta donk, besok dibawa ya..” Putri mengharap.
“Insya Allah. Tapi fotonya lagi bareng sama temen-temen pas study banding.” jawab Esti.
“Ya nggak apa-apa yang penting ada Woto.” jawab Putri dengan senyumnya.
Esok harinya Putri menagih janjinya kepada Esti. Dimintanya foto Woto dari tangan Esti.
Sudah beberapa hari ini Putri tidak bertemu Woto lagi di angkot. Di hatinya ada rasa kangen karena lama tidak melihat wajahnya yang tampan. Oh Tuhan ada apa ini? Apakah ini yang dinamakan cinta. Dan sejak kapan Putri tau tentang cinta? Bukankah dia tah pernah merasakan cinta. Dulu waktu di SMP dia banyak disukai cowok-cowok tetapi dia tidak pernah memberikan respon apa-apa. Apa mungkin dia belum ingin mengenal cinta atau dia belum menemukan seseorang yang mampu mengisi hatinya? Tapi mengapa dia memilih seseorang yang baru dia kenal dan belum tahu betul karakternya. Tetapi itulah yang sedang Putri rasakan. Entah itu perasaan apa dan bagaimana datangnya.
Hari ini mungkin Putri bernasib mujur. Seketika rasa kangen itu hilang dari hatinya. Setelah melambaikan tangannya ke arah angkutan dan mau masuk ke dalam, Putri sempat terkejut melihat semua penumpang cowok-cowok anak sekolah semua. Satu di antaranya adalah Woto. Ternyata semua cowok-cowok itu adalah teman Woto. Putri hanya duduk terdiam karena malu. Tak lama kemudian salah satu di antara mereka meminta kenalan. Woto pun mulai menggoda Putri meminta kenalan. Tadinya Putri hanya diam tidak merespon permintaan perkenalannya. Tetapi setelah salah satu di antaranya menyebut namanya, Putri akhirnya mau angkat suara. Satu per satu Putri berjabat tangan dengan mereka. Putri tak mengerti mengapa mereka tahu namanya, tetapi tak peduli mereka tahu namanya dari mana. Baginya bisa berkenalan dengan Woto itu sudah sangat bahagia. Mungkin menjadi kenangan yang tidak akan pernah dilupakan.
Woto sempat meminta nomor Hpnya dan Putri pun memberikannya. Sejak itulah kedekatan Woto dan Putri mulai terjalin. Setiap sepulang sekolah Woto selalu menghubunginya melalui SMS atau menelpon sekedar ngobrol sebentar. Putri merasakan kalau Woto sepertinya juga menyukainya. Bukanya GR tapi kelihatannya seperti itu. Tetapi Putri belum yakin dengan perasaannya. Apa mungkin cowok setampan Woto naksir sama aku?
Di kamarnya Putri masih muter-muter kaya obat nyamuk sambil megangin kepalanya. Dia masih tidak percaya dengan yang barusan didengarnya. Rasanya seperti mimpi, mencoba mencubit pipinya sendiri tapi rasanya sakit sekali. Ini memang nyata bukan halusinasi semata. Ternyata perasaannya selama ini benar kalau Woto pun menyimpan perasaan yang sama. Tadi Woto nembak Putri walaupun nggak ngomong langsung hanya lewat telepon. Dia tidak langsung memberikan jawaban, butuh waktu untuk menjawab katanya. Woto juga mengerti dengan keputusan Putri dan memberikan waktu untuk menjawabnya. Putri masih bingung harus menjawab apa. Dia memang mencintai Woto tapi apa ini semua tidak terlalu cepat untuk menjalin hubungan. Woto dan Putri memang belum terlalu lama saling mengenal mungkin sekitar 6 bulan. Mereka berdua pun jarang bertemu, komunikasi hanya lewat ponselnya.
Di kelasnya Putri curhat dengan Esti, dia menceritakan semuanya. Memang selama ini Erna dan Esti lah yang tahu tentang kedekatannya dengan Woto. Sedikit ingin mengetahui karakternya, secara Esti lah yang pernah sekolah bareng Woto malah 3 tahun sekelas terus. Putri meminta pendapat Esti, katanya diterima saja Woto itu anaknya baik dan pengertian.
Setelah beberapa hari Putri menunda jawabannya akhirnya dia menerima cintanya. Kini Putri dan Woto sudah resmi jadian. Sudah beberapa bulan menjalani hubungannya nampaknya kegembiraan masih nampak di wajahnya. Saling percaya dan memahami itu lah yang menjadi kunci hubungannya selama ini. Mereka sangat menikmati masa pacarannya. Setiap malam minggu atau hari minggu mereka menyelakan waktu sedikit sekedar mencari udara segar membuang penat dan melepaskan rasa kangennya. Hubungan mereka terlihat sangat romantis. Mungkin mereka telah menemukan tambatan hatinya yang selama ini diidamkan. Bahagia selalu terlukis di senyum manisnya. Ternyata cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Teman-temannya kadang merasa iri dengan hubungannya yang romantis. Putri tersenyum dan menjawab hanya satu kuncinya saling percaya.
Di buku diarinya Putri menulis, mungkin ini yang pertama kalinya dia membuat kata-kata indah.
“Memandangmu adalah suatu anugrah bagiku,
Mengenalmu adalah suatu kebanggaan bagi diriku,
Memanggil namamu adalah suatu keindahan bagi hatiku,
Mendengar suaramu adalah kedamaian bagi jiwaku,
Bagiku kau lah lelaki yang terhebat dalam hidupku,
Dan kan selalu ada dalam hatiku.”
SELESAI
Cerpen Karangan: Liana Suci R
01.02
Unknown


0 komentar:
Posting Komentar