Rabu, 02 April 2014

“Allahu akbar Allahu Akbar”
“Hoaammmmm, masih ngantuk nih,,”
Suara Adzan Subuh itu lagi. Suara yang biasa membangunkanku seperti pagi ini, pusing bener rasanya, ku paksa kucek-kucek mata yang masih terasa berat untuk dibuka. Mungkin ini gara-gara tadi malam telfonan sampai tengah malem.
“Sekali lagi makasih yah sayang, hadiahnya bagus banget aku suka, goodnight.”
Suara Lina masih ke inget jelas, sebelum dia nutup telfonku tadi malem. Walau sekarang jadi ngantuk gila gini, dan kaki ngilu gara-gara genjot sepeda kiloan meter nganterin hadiah ulang tahun kemarin, tapi senang rasanya karena misi melukis wajah pacarku akhirnya sukses. Semagat rasanya memulai pagi.
Siap-siap, Jalan kaki dari tempat kost ke sekolah. Memang sudah jadi ritual harian ku tiap pagi, sudah jadi hal yang biasa buat-ku, dengan hari-hari yang Nampak sama dari minggu ke minggu, kelas 2 SMA yang terasa mulai “membosankan”, tak ada hal yang luar biasa terjadi padaku. Hampir setahun gak ada lagi temen kost di tempatku, tapi beberapa bulan terakhir ini Lina lah yang agak bikin seru suasana di tempat kost ini, walaupun hanya lewat telfon atau sekedar sms an kalau malam.
Senin Pagi, terlalu pagi rasanya untuk tiba paling awal di sekolahku, SMA Negeri 2 Bakti Jaya. Memang sudah jadi kegemaranku untuk datang paling awal di sekolahku sebelum ada satu murid pun yang datang, mungkin karena datang pagi memberikan optimisme tersendiri bagi hariku. Atau karena hal lain, kadang datang pagi jadi kewajiban buatku untuk jadi yang pertama di sekolah ini, ya, jadi yang pertama: Orang pertama yang nyontek PR teman.
Bendera Merah Putih sudah terpasang di tiang bendera, ku lihat saat baru masuk gerbang sekolah. Berarti hari ini gak ada upacara bendera. “Tumben” pikirku. Masuk ke sekolah, pintu-pintu kelas masih dikunci, sepertinya ini memang kelewat pagi, alhasil ku hanya bisa nunggu petugas membuka pintu sambil duduk di depan kelas.
2 menit sekali ku tengok jam di Samsung Gt3322-ku. 7 menit nunggu, akhirnya petugas datang dan membuka pintu kelas. Dengan cepat tas ku sudah ada di bangku paling belakang pojok kelas, itu bangku ku. Tapi ada yang aneh, Seingat ku banyak hiasan kelas yang berubah di kelas ini, “apa kemarin ada acara bersih-bersih kelas? Entahlah.”
“Tang, Bintang?!!, ngapain lu? Kan kelas kita bukan disini” Heri teriak bikin ku kaget “Oo ya, memangnya lu dah sembuh? Maaf aku gak sempet jenguk sob, gue kan baru datang dari Malang, ada pertandingan bola” tambah Heri. Ku melongo, “Hah, Apa? Aneh ni orang” pikirku.
1. Dari dulu ya ini kelasku, “kelas 2 sosial satu”, ruangannya ya disini, gak pernah pindah.
2. Kapan juga ku sakit?, lagi sehat wal afiat ini.
“Ah, apaan sih Her, gila lu!!, kapan juga gue sakit? Lagian kan disini kelas kita” ucapku. Heri Diam sebentar, tatapannya langsung berubah datar. “Tang”, “Apa?!”, “ Sekarang tanggal berapa?” gak tau kenapa Heri malah Tanya tanggal, “Kemarin kan 5 Mei, si Lina ulang tahun, Sekarang Ya 6 Mei” jawabku. Heri Melotot, “Lihat di Hape-lu, Sekarang tanggal berapa?” ku lihat Hape, “2 SEPTEMBER” “Hah?!” ku melotot, mulai kapan Heri bisa sulap? “Kok bisa? Belajar sulap dimana lu?!” heran. Alis Heri nyatu, “Sulap? Hahaha, bukan tang, ini bukan sulap, memang sekarang tanggal 2 September”.
“MAKSUD-NYA?! Apa nih?” ku mulai parno. “ku denger, kemarin lu jatuh pas naik sepeda. Katanya lu sempet di bawa ke Rumah Sakit, tapi aku baru tau kalau lu Amnesia,?!” “Gue, Hilang Igatan?!” aku nunjuk diri sendiri. “Bentar-bentar, kalau gue Hilang Ingatan, Kenapa keluargaku gak tau? Kenapa ku terbangun di tempat kost, bukan di rumah sakit?” Heri Diam Menggelengkan kepala. ku lihat kalender, tapi bener ini bulan september. Suasana Hening, aku Bingung.
Tiba-tiba Hape ku getar, Kakak-ku nelfon. “Halo dek” “Kak Kenapa? Kenapa? Kenapa?” 10 menit berlalu. Setelah pembicaraan yang panjang dengan kakak di telfon, aku yakin bahwa apa yang dikatakan Heri mungkin ada benarnya. Kakak-ku barusan bilang “Kamu gak papa kan dek?!, kata dokter kamu gak papa, jadi kakak langsung bawa kamu ke tempat kost-mu” lalu hape-ku mati, kehabisan batrerai.
Aku mikir, setengah sadar, dalam hati ku bilang “aku sedang Amnesia, dan kehilangan ingatan dari tanggal 6 mei hingga 1 september kemarin. Lalu?”, “tang?!, woy!!” suara Heri membuyarkan lamunanku. “Hah, iya her, hehe, kena tipu luu!!! Hooo, Enggak kok, Gue sudah sehat sekarang, gak amnesia. Ayo ke kelas.” Jawabku pada Heri. Ku sengaja bohong sama Heri, Selama ingatanku belum kembali aku akan menyembunyikan kenyataan bahwa aku sedang hilang ingatan. Ya, itu rencanaku.
Heri jalan dan aku ngikut saja ke kelas, anehnya dia malah masuk ke kelas dengan papan nama “kelas 3 sosial satu”, padahal kan harusnya “kelas 2 sosial satu”. Aku hanya diam dan mengikuti. Baru sadar, sekarang bulan September, berarti ujian kenaikan kelas sudah lewat, mulai mikir, mungkin ada untungnya hliang ingatan “Serasa tak perlu ikut ujian kenaikan kelas!!” untungnya aku.
Jam Pelajaran di sekolah, entah kenapa di kelas 3 ini aku bisa duduk di bangku paling depan pojok kelas?. ku mulai mikir, apa saja yang terjadi selama 3 bulan lebih memoriku hilang. Eureka!!, aku teringat pada sebuah Buku, semacam Dayre di tempat kost ku. Biasanya jika ada “kejadian penting dan berkesan” aku mencatatnya dalam buku itu. Satu-satunya yang ku pikirkan selama jam sekolah hari ini hanyalah buku itu, aku pura-pura tidur sehingga tak perlu bicara dengan teman-teman kelas ini yang banyak tak ku kenal. Aku duduk sebangku dengan heri, tapi tak mungkin bertanya tentang ingatan kehidupanku yang “hilang” padanya. Sekalipun ada hal yang begitu ingin ku tahu: Apa Lina tetap jadi Pacarku hingga sekarang?.
Hanya namanya Amnesia, hilang ingatan, tapi bagiku ini seperti “Melompat ke masa depan”. Tadi pagi ku terbangun, dan tau tau sudah 3 bulan lebih dari waktu ku ingat aku tidur tadi malam. Sepertinya aku tak lagi butuh “Mesin Waktu Doraemon” untuk melintas waktu. Khayalan masa kecil ku untuk pergi ke masa depan sekarang terwujud. Dan, sekarang aku bingung karena tak dapat kembali ke masa lalu.
Bel Pulang Sekolah Berbunyi, ku percepat langkahku untuk menuju tempat kost. Mencari-cari buku catatanku, yang sekarang malah menjadi buku catatan ramalan nasib ku, karena aku sendiri tak tahu apa yang tertulis di buku itu. “Di mana yah? Sampul Hijau agak kecil” gumamku dalam hati. “Eureka!! Ini dia.” Tepat di bawah laci meja di tempat kost ku. Ku buka buku itu.
Selasa, 7 mei
“Aku Putus!!”, lina memutuskanku lewat SMS. Katanya dia ingin fokus pada pelajaran karena hampir kelas 3. Awalnya ku bisa terima alasannya, tapi Sisil teman Lina yang kasihan padaku bilang bahwa sebenarnya Lina selingkuh dengan cowok lain. Lina hanya ingin dilukiskan wajahnya. 2 hari setelah ulang tahun lina, “kita putus”. Rasa kecewa ini, “semoga aku bisa memaafkanmu lina” untuk terakhir kali ingin ku bilang “aku sayang kamu”.
Hening, tak ada yang bisa ku katakan. Sepertinya baru kemarin ku hampir kecelakaan saat mengantarkan lukisan dengan menggunakan sepeda pedal saking tak sabarnya, hingga nyaris di tabrak mobil. Ku usap pipiku yang kini basah, ketika setelah berbulan-bulan pacaran, secara tiba-tiba aku tahu: aku jomblo.
Setelah mencoba untuk move on secara kilat, aku mencoba tegar. Sekarang aku tahu buku ini bukan hanya buku ramalan, tapi juga buku kenyataan pasti yang harus ku terima baik buruknya. Ku coba beranikan diri, membalik lagi lembaran kertas buku itu.
Rabu, 10 mei
Masih mencoba mengikhlaskan Lina. Suasana tempat kost sekarang sepi. Satu persatu teman mundur sebagai tempat curhat. Tapi ada juga yang bertahan sih, salah satunya Meri, teman SMP ku yang memang sahabat sekaligus “Tempat Curhatku.”
Sabtu, 29 juni
Entah kenapa ada perasaan tak enak saat Meri mencurhatkan tentang cowoknya. Yang ku tahu, aku terbiasa sama Meri. Walau hanya sekedar teks SMS.
Selasa, 3 juli
Sekarang Meri jomblo. Satu Lagu Tercipta “Pengagum rahasia”. Ku sadar, aku suka Meri. Tapi entah kenapa aku tak tahu? Dan biarlah rasa ini terpendam. Aku takut, Semakin aku sayang Meri, semakin singkat waktu yang ku punya. Aku takut harus melupakannya andai saja ku jujur bilang suka, dan kelak kita harus jauh-jauhan karena tempat kuliah yang beda. GALAU.
Sabtu, 20 juli
Akhirnya “Aku ketahuan” Meri. Berawal dari update status di facebook, aku di paksa ngaku, dan akhirnya ku bilang “Aku Sayang Kamu Meri” WOW!!. Dan gilanya, Meri tak marah ketika tau aku sayang dia. HORE!!! Kadang jadi senyum-senyum sendiri, tak khawatir akan masalah tempat kuliah lagi, jalani aja dulu. Alhamdulillah.
Ku letakkan buku itu di atas meja. Jantung berdegup kencang rasanya ketika tau sekarang aku HTS-an dengan Meri. Semua seperti terjadi begitu cepat. Belum pernah ku menulis catatan dengan kata-kata bahagia seperti itu, mungkin memang aku sangat sayang ke Meri. Aku Charge hape-ku. Ku baca satu per satu isi SMS dengan Meri. Akhirnya ku tahu, ber minggu-minggu sudah aku SMS-an dengan Meri. Tiap kata dalam kumpulan pesan singkat itu menegaskan betapa dekat kami, betapa aku sayang Meri. Ternyata telah banyak ingatan penting telah hilang dalam otakku, termasuk ingatan aku sayang Meri.
Semua ini terjadi terlalu cepat, beberapa jam yang lalu hatiku ada di tanggal 6 mei, aku sayang Lina. Sekarang, hatiku berpindah tempat di tanggal 2 september, aku mulai sadar aku memang terbiasa pada Meri. “Tapi, apakah aku sayang Meri?” Pertanyaan-pertanyaan sederhanapun ku tanyakan pada dinding kamar kost malam itu, pada lampu, terlebih pada diriku sendiri.
“Kenapa gue gak inget apa-apa?!! huaaaa!!!”
“tuuuuut-tuuuuut” Suara nada tunggu yang ku dengarkan baik-baik. Nomor di layar Hape ku menunjukan urutan nomer Meri. Aku nekat nelfon Meri, aku ingin jujur tentang apa yang sedang ku alami sekarang.
“Ha.. Haloo”, “Halo, apa ay?” jawab Meri Santai. “Ay? Oh iya, ay aku pengen jujur, sebenernya hari ini aku Amnesia”. “HAH??!!” jawab Meri terperangah. Aku pun Ngobrol panjang lebar, menceritakan apa yang terjadi. Awalnya ku pikir ini akan jadi buruk, tapi setelah puluhan menit gobrol dengan Meri aku tahu alasan aku sayang dia.
“Lucu ay, ya udah gak papa. Aku gak maksa kamu inget perasaanmu ke aku kok. Tapi aku yakin, jika kenanganmu bisa hilang, maka kita pasti bisa menulis kenangan itu lagi, Bersama.” Kata-kata sederhana memang. Tapi itu membuktikan betapa tulus hatinya. Dan betapa Meri sayang aku apa adanya. Sekarang Semua ke Khawatiranku tentang ingatanku pun hilang. Aku bahagia bersama Meri sekarang. Dan dengan penuh keyakinan ku tutup telfonku malam itu dengan barisan kata: Aku sayang kamu Meri.
“Allahu akbar Allahu Akbar”
“Hoaammm, masih ngantuk nih,,”
Suara Adzan Subuh itu lagi. Suara yang biasa membangunkanku seperti pagi ini, pusing bener rasanya, ku paksa kucek-kucek mata yang masih terasa berat untuk di buka. Hari yang baru, suasana luar biasa karena kejadian kemarin. Siap-siap, Jalan kaki dari tempat kost ke sekolah. Hal yang aku lakukan tiap hari. Tapi kini begitu ku nikmati karena aku tau ada orang yang sayang aku apa adanya: Meri.
Ingin ku tulis perasaanku pada buku catatanku. Tapi entah kenapa bukunya tak ada di atas meja, bukunya kembali ada di laci di bawah meja. Ku buka buku itu, aku diam.
Hening. Semua catatan yang ku baca kemarin hilang, “HILANG?!!”
Ku bolak-balik satu persatu kertas di buku itu, Aku bingung.
Ku lihat Samsung Gt3322-ku, hari ini bertanggalkan Senin, 6 Mei.
Senin Pagi, Aku tak percaya bahwa semua itu hanya mimpi. “Semua sedih dan bahagia itu, apa juga mimpi? Akan ku cari tahu” Janjiku dalam hati.
Selasa, 7 mei. Aku tuliskan lagi kejadian dalam buku catatan yang pernah ku baca dalam mimpi itu. Namun dengan kata-kata yang berbeda.
Selasa, 7 mei
“Aku Putus!!”, lina memutuskanku lewat SMS. Katanya dia ingin fokus pada pelajaran karena hampir kelas 3. Tapi aku sudah tau kejadian ini, Aku tau itu bohong. Aku tak menyesal jika Lina hanya ingin di lukiskan wajahnya. Sekarang Aku memaafkannya. Lagipula aku punya orang yang ku sayang sekarang, aku tau siapa TRUE LOVE-ku. Dan jika Di Tanya siapa orangnya? “Meri, Kamu Aja Deh”.



Cerpen Karangan: Badri Lokajaya

0 komentar:

Posting Komentar