Rabu, 02 April 2014

Aku sudah lama kenal Bintang, lama sekali, sejak SMP. Bintang selalu ada untukku, selalu menemaniku, tempat aku mengadu, tertawa bersama, bahkan saat aku ada masalah Bintang lah yang pertama kali tahu. Hingga suatu hari Aku harus pergi meninggalkan Bintang. Aku lulus dari sebuah SMP, dan aku harus melanjutkan sekolah di SMA jauh dari kotaku. Tapi Bintang selalu ada untukku meski kita jauh. Itulah yang aku kagumi dari Bintang. Bintang adalah sosok yang pintar, penyayang dan selalu perhatian, dan dia tidak pernah bisa melihatku menangis. Dia telah menjadi bagian dari hidupku.
“Mengapa harus sekolah jauh? Disini juga ada sekolah yang bagus.” Katanya saat aku memberitahu hal kepindahanku.
“Huft, ayah yang memintaku melanjutkan sekolah disana.”
“Bagaimana denganku? Siapa yang akan tiap hari cerewet. Siapa yang akan komentar akan sikapku. Siapa yang….”
“Bintang, kota itu Nggak jauh. Aku masih bisa pulang, kita juga masih bisa bersama-sama.” Jawabku
“Tapi…?”
“Percayalah, aku akan baik-baik saja disana.”
Ku pejamkan mataku, dan ku tarik nafas panjang, mungkin saat ini, aku masih bisa mengatakan aku baik-baik saja, tapi bagaimana nanti? Apa kau masih disini jika nanti aku pulang? Bisik hatiku
“Disana kamu pasti akan melupakanku.” Kata Bintang lirih
Aku menahan air mataku, dan aku hanya tersenyum.
“Tak akan pernah Bintang, mana mungkin aku bisa melupakanmu. Yang ada kamu yang lupa aku!”
“Hahaha… mana mungkin aku bisa lupa sama cewek yang manja dan cengeng sepertimu.” Ejek Bintang
“Huft, ingat ya aku bukan anak kecil lagi. Yang selalu kau bilang manja dan cengeng!” Bantahku setengah keras
Aku mencubit lengannya, hingga ia berteriak.
“Auww, sakit tau!!” Kata Bintang sambil melepaskan tangannya yang nyaris biru aku cubit
“Hahaha, itu tanda sayang.” Kataku sambil senyum ramah
Sementara senja bergulir perlahan. Pertanda hari menjelang malam, dan kami memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
“Sudah sore, ayo pulang.” Ajak Bintang
Aku mengangguk tanda mengiyakan.
Sekarang aku sudah benar-benar terpisah darinya. Jarak yang kini membuat kami jauh. Tapi, seperti yang aku katakan, Bintang masih selalu ada untukku. Yang mengingatkan aku untuk makan, yang selalu perhatian akan kesehatanku, dan yang selalu menenangkanku disaat aku mulai jenuh dengan keadaan disini. Dan aku mulai menyadari Bintang lah yang terbaik untukku. Satu tahun terakhir Bintang mulai jarang menghubungiku, jarang ku dengar ia memperhatikanku. Jangankan untuk menelponku, mengirim pesan pun tidak. Mungkin karena aku dan Bintang sudah mempunyai urusan masing-masing. Aku sangat tidak suka dengan hal yang seperti ini. Aku mulai merasa bahwa aku sudah tidak dipentingkan lagi.
Perlahan semua tentang Bintang samar. Sedikit demi sedikit, aku melupakannya dan mencoba berteman dekat dengan seorang teman sekolahku, Nanda. Walaupun begitu aku masih terfikir Bintang. Aku mencari informasi tentangnya, dan aku berhasil mendapatkannya. Sayangnya kabar yang kudapatkan adalah kabar yang sama sekali tak ingin ku dengar. Tapi mau bilang apa? Memang itu kenyataannya. Bintang yang kukenal, sekarang sudah tak peduli lagi. Ia memilih melupakanku, dan menggantikan posisiku sebagai sahabatnya dengan seseorang perempuan yang tidak aku kenal. Mungkin tak sebatas itu, atau hubungan mereka sudah mendekati lebih dari suatu sahabat. Mungkin benar kata teman-temanku, Bintang yang aku banggakan tak selalu akan bertahan seperti itu. Buktinya dia bisa lupakan aku.
Sejak mendengar berita itu, perlahan aku melangkah dan berusaha keras untuk melupakan semua tentang Bintang. Semua kenangan bersamanya, tentang Bintang yang selalu ada untukku, dan semua yang menyangkut antara aku dan Bintang. Aku ingin melupakan Bintang, kan ku hapus Bintang dari hidupku. Kataku setiap kali aku menyebut namanya. AKU BENCI BINTANG!!!
Hari-hari di sekolah baruku mulai membuatku sejenak melupakannya. Walaupun tak lupa seutuhnya, tapi setidaknya aku bisa sedikit melupakan hari-hariku bersama Bintang dulu. Munafik memang, kalau aku bilang aku membencinya. Dan sebagai gantinya, setiap malam sebelum tidur aku memandangi bintang-bintang di langit, menumpahkan semua sedih, perih dan juga rinduku.
“Mungkin kamu suka pada orang yang bernama Bintang itu Mell…” Ucap Nanda sahabatku
“Heh, mana mungkin. Aku membencinya..” jawabku datar
“Munafik kalau kamu bilang membencinya. Aku kenal kamu Melly, walaupun baru sebentar, tapi setelah aku dengar semua ceritamu, aku tahu kalau kamu suka sama Bintang.” Ucap Nanda
“Munafik apa? Emang itu kenyataanya.” Jawabku lirih
“Mell, kalau kamu tidak suka Bintang, kenapa kamu membencinya?”
Nanda membuatku terdiam dan merenungi kembali apa yang kukatakan tadi.
“Coba kamu fikir, kamu membencinya karena kamu mendengar kabar itu? Jangan bilang tidak kalau hatimu berkata iya.” Kata Nanda sambil meninggalkanku sendirian di luar
Ku biarkan ucapan Nanda mengambang di pikiranku. Cepat ku buang jauh anganku tentang Bintang. Bintang sudah melupakanku. Ternyata apa yang pernah ku takutkan dulu, terjadi juga. Pelan ku goreskan pena di atas diary kecil yang selalu kubawa kemana-mana.
Dear Deary,
Sakit ini, memang tak pernah kuhiraukan Meskipun sangat menyakitkan Kekecewaan tak pernah terungkap Ku rasa, kecewa pun aku, dia tak peduli Aku hanya seekor kunang-kunang Yang keberadaannya tak dianggap Apapun aku.. Sakitlah aku.. Itu tak pernah di fikirkan Hah… percuma untuk menangis Air mataku, tak penting baginya Mungkin matipun aku.. Ia takkan pernah merasa kehilangan.. Sesadis itukah hidupku? Tak adakah sisa keadilan untukku Meskipun begitu.. Jujur ku katakan Aku tak pernah menyesal, Karena aku yang memilih jalanku sendiri Dan hanya Tuhan yang tahu Aku disini menunggumu…
Tak lama kemudian, disaat aku sedang menulis, hp berdering. Ternyata pesan dari Bintang.
“Mell, gimana kabarnya? Baik-baik aja kan? Maaf, gak pernah telpon ataupun kirim pesan, aku sibuk. Terlalu banyak tugas disini. Maaf ya? Gimana disana, betah gak? Sesibuk apapun, Jangan lupa makan ya?
5 menit kemudian, aku membalas pesan Bintang, dengan kata yang tidak masuk akal.
“Gimana kabar pacar kamu, baik-baik aja kan?” kecewa
“Ditanya apa, jawabnya apa? Gak masuk akal kamu. Pacar yang mana sih, siapa? Aku masih menunggumu disini.”
Cuma bisa diam di kamar, dan kuabaikan pesan itu. Rasanya cuma pengen nangis. Bingung, mau percaya sama siapa. Percaya sama kabar itu, atau sama Bintang yang selama ini aku banggakan. Hahh, ngapain aku mikir ini, biarlah kalau Bintang udah punya pacar, ngapain aku yang repot, lebih baik sekarang aku tidur.
Pagi hari, sengaja bangun pagi-pagi buat jalan-jalan keluar sama Nanda. Ketika kami berdua duduk di taman, tiba-tiba ada seseorang yang mengejutkan kami dari belakang. Ternyata Bintang!!! Sama siapa dia disini, mau ngapain? Entah apa yang harus aku lakukan saat ini, mungkin marah, nangis, kecewa, aku pun tidak tahu. Aku cuma bisa diam.
“Hey Mell, lama gak ketemu. Gimana kabarnya baik-baik aja kan?” kata Bintang sambil senyum ramah
Aku dan Nanda terkejut, kenapa ada Bintang disini? Sama siapa dia?
“Iya, baik kok. Mau ngapain kesini?” jawabku gugup
Tiba-tiba Bintang mengajakku ke taman, dan Bintang menyuruhku agar Nanda sahabatku, tidak ikut denganku. “Mau ngapain? Ya mau ketemu kamu lah, aku mau ngejelasin semua. Bisa gak kita berdua aja?” Jawabnya dengan tegas
“Berdua? Terus gimana sama Nanda?” jawabku lirih
“Kita gak lama kok, cuma butuh waktu 15 menitan aja, bisa gak?” jawab Bintang
“Aku gak papa kok Mell, santai aja. Aku tunggu disini ya.” Jawab Nanda dengan senyuman
“Tunggu ya, gak lama kok.” Jawabku sambil melepaskan genggaman tanganku sama Nanda
Tiba-tiba Bintang mengajakkku ke salah satu tempat.
“Mell, maaf ya sebelumnya. Aku tau aku salah, aku gak pernah ngehubungin kamu, bukan karena gak mau, tapi memang aku sibuk” Katanya sambil mengulurkan tangan
“Iya gak papa, aku tau kok kamu sibuk, sibuk pacaran sama pacar kamu. Iya kan?” Jawabku ketus
“Aku? Punya pacar? Hahaha… Aku disini masih nungguin kamu Mell, walaupun kamu gak boleh pacaran sama orangtua kamu. Tapi, aku disini tetep nungguin kamu.” kata Bintang penuh dengan senyuman
Pertama kali aku melihat Bintang tersenyum, setelah kira-kira 2 tahun gak pernah ketemu sama bintang. Aku senang, senang sekali.
“Kenapa kamu suka sama aku?” Tanyaku dengan wajah serius
“Aku juga nggak pernah tau alasan kenapa aku suka sama kamu, aku suka kamu, iya karena aku suka. Rasa suka nggak harus ber-alasan kan Mel? Aku tahu kamu gak suka sama aku, tapi setidaknya aku udah jujur sama diriku sendiri, walaupun kamu nggak akan pernah suka sama aku.” Jawab Bintang penuh harap
“Tu kan sok tahu, ini nih sifat kamu yang gak bisa kamu rubah dari dulu. Sok tahu dan nggak sabaran. Belum sempat dengerin penjelasan orang lain, udah ngambil keputusan sendiri.” Jawabku
“Iya, sebenarnya kita punya perasaan yang sama, tapi tahu sendiri kan, aku gak boleh pacaran sama orangtuaku.” Lanjutku “Beneran? Ya udah gak papa, aku disini tetep nungguin kamu kok.” Kata Bintang sambil senyum tipis
Walapun kami berdua tidak pacaran, tapi setidaknya aku bisa lebih dekat sama Bintang.

Selesai


Cerpen Karangan: Rizki Oktaviani

0 komentar:

Posting Komentar