Rabu, 02 April 2014

Centil, sok akrab dan mudah jatuh cinta merupakan karakter yang dimiliki Rara. Di sekolah, banyak sekali cowok yang dekat dengannya.
Di tahun pelajaran baru, seperti biasanya pasti ada mahasiswa yang biasa disebut dengan PPL datang dan mengajar sementara di sekolah. Rara terpikat oleh beberapa PPL itu, sebut saja Arman, Manan dan Dika. Ya memang karena dia mudah jatuh cinta, jadi tak hanya satu cowok yang dia suka tapi tiga sekaligus. Rara mencoba untuk mendekati satu per satu PPL itu, dengan trik ingin menanyakan materi pelajaran yang baru saja diberikan. Sang PPL pun dengan senang hati pasti selalu menjawabnya dan mengajarkannya kembali kepada Rara.
Pagi itu pelajaran Bahasa Indonesia, yang akan di ampu oleh Manan. Tiap kali Rara memandang wajah Manan, hatinya selalu berdebar-debar. Jam pelajaran pertama itu membuatnya tak berkonsentrasi, wajarnya memerah dan tersenyum-senyum sendiri.
“Rara! Coba kamu jawab soal nomer 1”, seru Manan kepada Rara.
“I… i.. iyah mas, jawabannya C”, jawab Rara gugup.
“Ya! pinter kamu”, sahut Manan.
Rara pun lega bisa menjawab pertanyaan itu, padahal dia sempat tak memperhatikan pelajaran tersebut karena hatinya yang gelisah.
Kring!! Bunyi bel pergantian jam. Rara merasa sedikit sedih karena tak lagi bisa menatap wajah tampan Manan lagi. Pelajaran berikutnya adalah PKN. Rara kaget, Arman masuk ke kelasnya. Rupanya dialah guru yang akan mengampu mata pelajaran PKN. Lepas dari pesona Manan, kini dia kembali menggila oleh Arman. Lagi-lagi dia tak konsentrasi, tetapi malah melamun dan terus memperhatikan gerak gerik PPL yang ia suka itu.
“Ra, kamu gila ya?”, kata salah seorang teman sekelasnya.
“Apa sih!! aku kan lagi seneng aja, emang gak boleh apa!”, jawabnya.
“Hust.. hust.. hust… ada apa sih? Tenang dong, kita kan lagi belajar” sambung Arman.
Pelajaran kembali berlangsung. Rara sedikit kesal oleh temannya tadi, tapi hal tersebut mulai ia lupakan dan berusaha mengikuti pelajaran dengan konsentrasi.
Tak lama kemudian bel berbunyi dua kali itu tandanya istirahat. Arman masih duduk manis di bangkunya dan sedang mengisi daftar hadir. Rara berinisiatif untuk mendekatinya dan berbincang-bincang dengannya.
“Mas, boleh minta nomor hpnya gak?”, tanya Rara.
“Buat apa dek?”, jawab Arman.
“Cuma buat tanya kalau ada tugas dan pelajaran yang aku gak paham aja kok mas, plisss!”, Rara memohon.
“Iya deh ni, tapi janji ya jangan di salah gunain lho!”, kata Arman memperlihatkan hpnya yang tercantum nomornya.
“Makasih ya mas”, sahutnya membendung rasa bahagia karena sudah bisa mempunyai nomor orang yang ia sukai tersebut.
Malam harinya Rara teringat oleh nomor hp Arman. Ia penasaran apakah nomor itu aktif atau tidak. Kemudian dia kirim sms dan ternyata smsnya di jawab. Banyak hal yang mereka bicarakan di pesan singkat tersebut. Hingga tak terasa sampai larut malam, pukul 00.00 mereka memutuskan untuk mengakhiri smsan.
Esok harinya jam pelajaran kelasku kosong, tak satu guru pun masuk memberi tugas. Dari kejauhan Rara melihat Dika langkah demi langkah mendekat. Ternyata dia ingin mengisi kekosongan kelasku dengan pelajaran bebas. Berdebar-debarlah jantung Rara mendengar untaian kata yang keluar dari bibir manisnya. Sosok Dika adalah PPL terlucu, dengan Cuma-Cuma dia berbagi nomor hpnya yang ia bubuhkan di papan tulis. Rara segera menulis dan menyimpan nomornya.
“Wah ini PPL baik banget ya, makin suka aku sama dia”, katanya dalam hati.
Semakin hari Rara semakin merasa dekat oleh Arman dan Dika. Mungkin karena mereka selalu smsan tiap hari. Tiba-tiba muncul di benaknya tentang Manan. Dia juga ingin sekali memiliki nomor hpnya.
“Mas Manan… gimana ya caranya aku buat bisa dapetin nomornya? Harus tanya siapa?”, gumannya dalam hati.
“Mungkin aku bisa tanya mas Dika, karena dia kan sahabat dekatnya dan juga sama-sama jurusan Bahasa Indonesia”, sambungnya.
Berlari ke ruang PPL, pagi itu kebetulan masih sepi dan baru Dika lah yang sampai di sekolah. Rara menghampiri dengan pelan-pelan.
“Dorrr…!!”, teriak Rara mengagetkan Dika.
“Rara, kamu ngagetin aja sih, jantungan nanti aku”, kata Dika dengan suara agak tinggi.
“Emm, iya deh mas maaf ya, aku Cuma bercanda”, sahut Rara dengan nada rendah dan senyuman manis.
“Oke lah aku maafin, tumben kamu Ra, pagi-pagi udah nyamperin aku”, ujar Dika heran.
“Ini mas sebenarnya aku mau minta nomernya nomornya mas Manan”, kata Rara.
“Cie.. ciee.. naksir ya kamu sama Manan”, kata Dika mengejek.
“Engak kok mas, Cuma mau tanya masalah presentasi tugas kemarin aja kok”, jawab Rara.
“Hahahaaaa.. suka juga gak papa kok”, Dika menertawakan Rara.
“Ah, mas Dika ya udah deh kalau gak boleh”, Rara kesal dengan Dika.
“Jangan ngambek dong, ni nomornya tapi beneran ya, Cuma buat tanya masalah tugas bukan yang lainnya”, Dika memberikan secuil kertas yang ada nomor hpnya Manan.
Setelah mendapatkan nomor tersebut Rara langsung mencoba menghubunginya. Tetapi begitu di angkat dan terdengar suara Manan mengucap hallo, Rara langsung memutuskan panggilan tersebut karena tak ingin mengganggunya.
Hari berganti hari tak terasa sudah dua bulan berlalu. Rara mendapat kabar bahwa para mahasiswa PPL ternyata hanya selama dua bulan saja mengajar di sekolahnya. Seketika badannya dingin, hatinya luluh lantah. Dengan tegar dia mencoba menahan air matanya dan menanyakan kebenaran kabar itu kepada salah seorang guru dan memanglah benar. Guru tersebut berkata bahwa tinggal satu minggu lagi mereka ada di sekolah tersebut.
Rara tak ingin menyia-nyiakan waktu yang tersiksa ini. Dia pun sempat meminta foto kepada setiap PPL yang ia sukai itu. Dengan senang hati mereka juga mau berfoto dengan Rara. Namun di hari-hari akhir ini Arman, Dika dan Manan tak pernah lagi masuk ke kelasnya dan memberi pelajaran. Rara sungguh merindukan masa-masa keseruannya ketika bisa di ajar oleh PPL tercintanya. Selain itu menjelas tiga hari terakhir, Manan tak kelihatan, hanya Arman dan Dika lah yang hadir itu pun Cuma sebentar kemudian kembali ke kampusnya. Hari-hari menjadi sepi, smsnya juga kini jarang di balas, jika di balas yang terbaca hanyalah “maaf lagi sibuk”. Rara kini sering melamun, yang dulunya periang, centik dan sok akrab sekarang menjadi pribadi yang pendiam. Rupanya ketiga PPL tersebut mampu merubah sikapnya. Mungkin itulah yang dinamakan arti sebuah kehadiran cinta. Baru kali ini dia merasakan hal seperti ini.
Dua hari terakhir Rara melihat para PPL yang ia cintai itu. Dia mencoba ingin mendekati mendekati tetapi sayang sekali di ruangan itu ada dosen dan para guru yang sedang menilai mahasiswa-mahasiswa PPL tesebut. Dengan berat hati Rara kembali ke kelasnya dan tak bisa bersama, bercanda juga berbincang dengan mereka. Sempat air matanya menetes karena hatinya yang tak mampu membendung kesedihan dan kepedihan yang ia rasakan.
Di hari terakhir, Rara semakin sedih. Dari dalam kelas kelas Rara hanya bisa menangis, tetapi ketiga PPL tersebut sempat juga memandangnya dan memberikan senyuman yang mungkin akan menjadi senyuman terakhir untuknya.
Sesi pemotretan para mahasiswa berlangsung di kelasnya. Hal tersebut semakin membuatnya semakin sedih. Rara yang menyaksikan pemotretan itu mencoba tak mengedipkan matanya karena ia tak mau air matanya tumpah lagi.
“Dek sini! Ayo kita ikut foto-foto lagi”, kata Manan mengajaknya.
Mendengar hal tersebut dia senang walau pun harus menyembunyikan sebagian kesedihan.
“Iya sini Ra, narsis-narsis bareng kan besok kita udah gak di sini lagi”, sahut Arman.
Melangkah mendekati mereka sambil memberikan senyum kesedihan dan Rara pun berfoto bersama mereka. Dia juga berfoto berempat bersama ketiga PPL tersebut.
Foto tersebut langsung jadi, Rara pun meminta fotonnya tadi. Tak Cuma itu, dia juga meminta tanda tangan yang dibubuhkan di balik foto.
“Mas, jangan pernah lupain aku ya, kalian juga sering-sering dong main ke sekolah ini. Banyak hal yang akan aku lupain ketika mas-mas ngajarin aku dan sebenernya aku sama kalian. Bagiku mas Arman, Dika dan Manan adalah PPL terbaik”, kata-kata di hadapan ketiga PPL tersebut.
“Pasti, kita gak akan lupain kamu, kamu kan anak pinter dan baik hati. Kalau ada waktu pasti kita kesini, iya kan temen-temen”, sahut Arman menghibur Rara.
“Iya dek, jangan sedih dong”, sambung Dika.
“Bener Ra, kalau misalnya kita gak bisa kesini kamu boleh kok datengin kita ke kampus”, ucap Arman.
“Makasih ya mas, kalian gak akan aku lupain sampai kapan pun”, kata Rara merangkul ketiga PPL itu.
Rara pun kini menjadi lebih dewasa oleh pengalaman yang baru saja ia alami itu. Dan pengalaman itu akan ia jadikan lembaran cerita di cacatan kehidupannya.

SELESAI.








Cerpen Karangan: Anis Puspita Sari
First love 1704-2011
Sore ini, sambil menikmati gorengan dan teh hangat yang dibuatkan mama, duduk di teras rumah. Aku melihat lalu lalang pengemudi kendaraan yang lewat di depan rumahku. Entah mengapa aku merasa nyaman duduk di tempat ini. “I will always love you kekasihku… tersentak aku mendengar suara hp-ku. “Mbak, besok jadi kita ke fantasy Island, dijemput jam 8, siap-siap ya” ku baca sms dari tanteku…
Hhhmmmbbb…
Asyik ternyata jadi juga liburan besok
Dalam mobil kami bernyanyi-nyanyi dengan lagu-lagunya Rosa, kebetulan aku dan tante sama-sama menyukai lagunya rossa, 1 setengah jam perjalanan, sampailah kami di Fantasy Island.
Sementara, tante dan mama mempersiapkan makanan. Aku berganti pakaian dan menuju kolam arus.
Bbbrrrhhh… Kulawan rasa dingin itu, walaupun masih terlihat pagi tapi mentari sudah nampak jelas.
“Ayooo… cepat mbak!!!” teriak adikku di ujung sana.
Hahahah aku keduluan, “Iya tunggu aku akan menyusulmu” jawabku.
Ditemani oomku dengan berenang bersama…
Bbraaakkk…
“eh maaf-maaf”. ujar cowok ganteng
“Amboyyy ganteng juga ni cowok”. Ujarku dalam hati
Tapi aku tetap saja meneruskan permainanku dengan adik dan oomku
Saking asyiknya bermain, tak kusadari 4 pasang mata itu memperhatikanku, merasa diperhatikan aku pun memberi senyuman termanisku. Aku pergi meninggalkan adik dan oomku. Tepat dugaanku ke-4 cowok itu menyusulku.
“hayyy… aku ferry, sendirian ya?” sapa cowok ganteng itu.
“oh… iya hehe, kamu?” jawabku dengan kaget.
Temannya menyusul… aku Army, aku Ary.
Tapi tatapan mataku tertuju pada 1 cowok, cowok yang cuek, sok belagu, temannya ferry juga sih, saat ku tanya namanya Dian.
“boleh minta nomor hpnya?” ujar Army
Cepat kualihkan mataku dari si cuek Dian, “ohh… iya boleh” sentak ku jawab.
“Gimana caranya ni kan gak ada hp?” ujarku lagi.
“Kami bisa menghapalnya kok” jawab Army.
Dari ke-4 cowok itu memang army yang terlihat lebih agresif mendekatiku.
Aahaeeeyyy
Tak terasa 3 jam sudah aku berenang,
“ayo kita menaiki kereta gantung” teriak oomku.
Aku pun berlari mengejar oomku, eiittzzz ketemu lagi deh dengan cowok sok cool itu, tetapi army dan ferry pun tak nampak batang hidungnya.
Kuberikan senyuman untuknya…
Hhuuuaaa…
Kok ketemu melulu siiihh, jangan-jangan…
Akh…
Cuma khayalanku saja.

“dulu pernah ada cinta, dulu pernah ada sayang. Namun kini tiada lagi perasaan seperti dulu, kini tiada lagi kisah, cintakku telah musnah hancur hatiku telah kau sakiti perasaanku…”
“Ini febby ya?”
“Iya ini febby, siapa ni?”
“Tebak dong siapa. hhmmbbb…” terdengar suara dari sebrang sana.
“Dian ya?”
“Ih dasar, kenapa mau bicara dengan Dian ya…”
“Ah gak juga…”
“Aku yang pake baju putih itu lohh…”
“Oohhh… army”
“Yappz benar”
“Lagi dimana?”
“Ini udah di jalan mau pulang”
“Smsan aja ya berisik banget ni”
telepon pun ku tutup
Sepanjang perjalanan aku pun teringat kejadian disana tadi, asyik seru kocak, hhuuaaammm… sms terus berlanjut sepanjang perjalanan, malam, pagi, siang, sore dan seterusnya…
Melihat kecuekan Dian aku jadi penasaran, seminggu berselang, Dian datang ke rumah. Ternyata asyik juga orangnya gak secuek yang kubayangkan. Mendengar kabar Dian datang ke rumah, Army pun tak mau ketinggalan. Oh Army… senekat itukah dirimu?
Kamis, 17-04-2010
Bbrrruuaaahhh…
Terpatri di hatiku, namamu Army. kaulah cinta pertamaku, pertama sekali memang keluargaku kurang yakin tentang hubungan ini. Nggak salah tuh mama yang pertama kali protes, perbedaan usia dan pendidikan lah jadi kendala. Army yang sudah menyelesaikan S1-nya. Aku yang baru masuk bangku SMA.
Achhh mama, cinta itu kan gak pandang usia, asal kita ikhlas ngejalani dengan apa adanya dan nyaman. Nonton pertama kali, jalan malam pertama kali ku dengannya, Army gak seperti kebnyakan cowok yang ku kenal sebelumnya, dia lebih banyak membimbingku dan menjaga sikapku sebagai ABG.
Hubungan kami hanya sebatas 4 bulan, karena dia kerja dan pergi ke jakarta. Komunikasi terus berjalan tapi hanya via FB, gak tau apa karena Army yang ingkar janji, apa karena aku yang bosan, perjalanan cinta ini bertambah hari bertambah hambar, gak ada lagi kata-kata mesra dan perhatian kecil untukku. Hati kecilku bertanya, apakah ada yang lain di hatinya…
“Hancur-hancur hatiku… 3x” di iringi suara olga yang pas-pasan.
Army menyatakan kita tak sejalan lagi…
Walaupun hatiku sedih, gengsi dong menolaknya? ku terima semua keputusannya…
Dengan air mata…
Hancurlah cinta pertamaku…
Hari terus berlalu, saat-saat sekolah bertemu teman-teman yang kocak, ceria, bawel, nakal, jahil semuanya ada deh buat hati ini sedikit demi sedikit bisa melupakan dia, sering juga ingin rasanya aku merasakan cinta lain, tapi tak pernah lebih dari satu bulan.
Setiap ku akhiri dengan cowok wajah Army selalu terbayang, mengapa ya di dunia ini gak ada cowok yang seperti dia lagi, selalu mengalah untukku, yang gak pernah mengatakan TIDAK dengan keinginan walaupun ku tau terkadang tak sejalan dengan hatinya…
Yaaa… penyesalan selalu datang terlambat, dia sudah jauh disana, entah siapa pemiliknya, hatiku sakit mengingatnya.
04-02-2011
Tepat pukul 12 malam, hpku berbunyi, aku kaget dan terbangun dari tidurku. Suara yang tak asing lagi ku dengar,
“HAPPY BIRTHDAY MY SWEETTY” terbelalak mataku.
Bukankah itu suara yang selalu ku tunggu selama ini, ternyata tak seburuk ku duga, dia selalu ingat hari terpenting dalam hidupku, yaitu ultahku, so sweet
Sejak itu komunikasi berlanjut lagi, Army yang sekarang bukan Army yang dulu lagi. Perhatiannya, kocaknya, lebih dari waktu dulu saat pertama kali kenal.
Amboooyyy seandainya dia belum ada yang punya, Ooo tapi gak mungkin di Jakarta itu gudangnya cewek cantik, apalagi dia sekarang sudah kerja cewek mana yang gak mau dengan sarjana yang masih muda, bekerja di salah satu Bank NEGERI, ciiuut hatiku mengingat itu? hhiikksss…
10-03-2011
Aku ingin memberikan kejutan istimewa juga seperti dia berikan padaku, mengucapkan HAPPY BIRTHDAY pertama kali
Terlihat bahagianya dia dengan perhatianku ini?
“Dd sudah punya pacar belum?” tanya-nya.
Terkejut aku mendengar pertanyaan itu, lalu di malam yang sunyi itu dia mengingatkan aku dengan lagu AISHITERU lagu kenangan dulu…
28-03-2011 pkl. 22:30
Dia datang malam itu juga membawa sedikit oleh-oleh buat keluargaku…
Pagi hari mama menceritakan kejadian semalam, hhuuuffttt…
Jadi penasaran gimana si orangnya sekarang, nyesel deh semalem tidurnya kecepetan
Komunikasi terus berjalan, sekali waktu dia ngajak jalan, ternyata dia masih seperti yang dulu, perlahan rasa cinta yang dulu tumbuh kembali untukmu Army.
Doa 2011 ternyata sudah dipersiapkan Army untuk melanjutkan hubungan ini, tentu saja aku menerimanya, benih-benih cinta itu kembali mekar bersemi di hati, setiap hari selalu ada sms darinya, terisilah hatiku dengan dia lagi, cinta pertamaku kini telah menjadi miliku lagi.
Sebulan berlalu gak terasa, tanpa masalah, tanpa beban, kujalani cerita cintaku dengan nyaman, sesuai dengan doaku 1704.2011, namun tetap sejuta tanya mengisi jiwa akankah semua abadi selamanya…










Cerpen Karangan: Febby Rizqy Febriyanti
Sahabat Pesawat Kertas
Senja telah tiba
Siang telah berlalu…
Gelap malam telah menanti dengan senyum beribu bintang….
Yang setia menemani bulan….
Seperti Kyky Larasasti yang setia mendengar cerita Andika Diano yang tak henti hentinya selalu menanyakan kebiasaan pacarnya yang sekaligus cewek itu adalah sahabat Kyky, tak Cuma bertanya dia menyodorkan Hpnya agar Kyky bisa membaca sms dari cewek itu dan ia bisa mendengar komentar dari kyky tentang sosok pacarnya. Tapi kyky hanya terdiam memendam rasa sakit, sakit hati seorang wanita yang telah dicampakkan tanpa dihargai keberadaan cintanya namun ia tetap tegar dengan tatapan mata yang tajam dan berkaca-kaca Kyky, mulai merangkai kata untuk mengungkapakn isi hatinya “kenapa, kenapa kamu selalu minta aku seperti ini ka kenapa kenapa lo selau minta pendapat gue, lo pacarnya seharusnya lo lebih tau daripada gue tapi kenapa lo selalu nanya itu terus kalau aku bilang dia masih sayang sama mantanya apa lo percaya ka apa lo bakal nurutin gue kalau gue bilang loe putusin dia, loe tu harus sadar sekarang lo udah punya dia ka dan dia prioritas utama lo saat ini kan sampai sms dari gue aja lo gak bales atau mungkin di hp lo udah gak ada kata kyky”. Kata-kata itu dibalas Dika dengan tawa yang terbahak-bahak dengan memegang tangan kyky dan menatap matanya dia bilang “Asal kamu tahu ky kamu itu udah kayak ibu aku dokter aku kakak aku adik aku kamu itu segalanya untuk aku tanpa jadi pacar aku pun kamu punya tempat sendiri di hatiku yang gak bisa ditempati orang lain”
“Ya terserah lo lah Ka loe mau bilang apa juga aku percaya, aku mau pulang aku capek aku mau mandi”
“ky.. ky loe tu ya cewek cantik cantik kok sore gini belum mandi, pantesan aja gak punya pacar eh ya ky I love you, I Miss U, I need U FOR EVER” kyky hanya tersenyum dan pergi sambil mengusap air mata yang sudah nggak bisa di tahan dari kelopak matanya dan ia sembunyikan dari dirinya sendiri kalau dia tak hanya cinta dengan cowok itu tapi dia tulus untuk menyayanginya dan menerimanya
Saat Kyky belajar Hpnya bunyi satu sms masuk dari Andika “Ky lo lagi apa aku ganggu gak aku nyusahin lo gak aku mau curhat ky please kamu kesini ya temenin aku, aku butuh temen aku butuh kamu caby sekarang dia berubah ky aku mau putus menurut mu gimana Ky”
“Terserah itu hak kamu putus atau pacaran terus, apapun pilihan mu gak bakal ada untungnya buat aku”
“Yah lo ky kok gitu sumpah ky gue butuh nasehat lo sini ow ky lihat bintang sama aku sambil curhat curhatan”
“Males gue lagi belajar!!! besok aja ya kalau nggak gitu lo sms aja deh pasti gue bales”
“Yah lo ya udah deh lo belajar aja dulu SELAMAT BELAJAR CABIE!! Gue curhat ke ita aja ntar pasti ita ceritanya ke lo juga”
“Ya pastinya to, kan dia sohib gue semoga lo bisa pilih yang terbaik ya amin”
“Andai esok aku tak akan bisa lagi menatap bintang, melihat bulan dan merasakan desiran angin akan kah aku tetap bisa bercanda dengan mu sahabatku, masih bisakah aku melihat tawamu, dan masih sanggupkah aku mengusap air matamu”
“Andika Diano itu kata kata kata gue kenapa lo buat puisi”
“aku gak bercanda, ky sumpah gue bingung harus gimana? ya udah lah ky mungkin hanya sampai di sini aja”
Dan saat kyky baca sms dari andika yang terakir, air mata Kyky telah mengalir dari sela-sela kelopak nya, entah mengapa Kyky tak pernah sanggup melihat sahabatnya itu mengalah dengan keadaan dan menyerah begitu saja tanpa harapan. Karena air mata yang terus menetes itu buku pelajaran kyky telah basah bahkan tugas puisi yang Kyky buat telah luntur oleh tetesan air matanya sendiri. Karena itu Kyky berhenti mengerjakan tugasnya dan mengambil satu kertas di sampingnya dan tangannya mulai menggores kan tinta dengan rangkaian kata tentang isi hatinya.
Mungkinkah ini yang namanya kasih sayang, aku harus rela melepaskan orang yang aku cintai demi kebahagiaannya, atau mungkinkah ini yang namanya pengorbanan aku harus tersenyum melihat mereka berdua walau kadang hati ini sakit, Ya Alloh aku tahu cintaku ini cinta terlarang karena itu aku berusaha menghapus cintaku. Ya Alloh bantu hambamu yang lemah ini untuk belajar ikhlas melepas seseorang yang bukan untuku ampuni aku jika aku memaksa diriku untuk terus melupakannya. Ya ALLOH bantu dia menemukan titik terang dari masalahnya amiin.
I LOVE YOU ANDIKA
Setelah Kyky selesai menulis surat, ia lipat suratnya menjadi pesawat kertas dan diterbangkannya ke angkasa agar bintang yang tersenyum di malam itu bisa tahu isi hatinya walaupun ia tahu tak mungkin surat pesawat kertasnya itu bisa sampai ke bintang, tapi satu yang ia yakini doa setiap insan manusia akan selalu terdengar oleh sang Maha Kuasa yang selalu yang tak pernah tidur karena menjaga hati para umatnya. Itu yang membuat kyky selalu sujud padanya dan berdoa semoga diberikan jalan terang di setiap langkahnya dan setiap tindakannya.
Semenjak itu Kyky tak bertemu dengan dengan Andika bahkan inbox yang biasanya penuh dengan celotehan sahabatnya itu, kini satu pun tak ada nama Andika. Tapi semua itu tak seburuk yang Kyky bayangkan karena saat kyky berjalan ke tempat neneknya, tepat di samping rumah Andika ada suara yang memanggilnya dari dalam rumah “Ky mau kemana? ntar kalau mau pulang kesini dulu aku mau cerita penting”
Ketika kyky pulang andika sudah duduk di depan rumahnya tapi kyky tetap berjalan dan tak menghiraukannya tapi suara andika terdengar jelas di telingganya
“Ky tunggu kenapa lo ngehindar dari aku”
Sepontan kyky berhenti dan berjalan menghampiri Andika
“Duduk ow ky aku mau cerita”
“Cerita apa lagi, katanya putus apa lagi yang mau di ceritain lo mau cerita papanya Latri marah lihat tingkah lo, dan semua itu gara gara adik ku atau lo mau aku kesini karena lo mau marah atas kesalahan adik ku, ya aku minta maaf tapi satu sebenarnya itu salah lo sama cewek lo sendiri”
“Hus, ini ni minum dulu biar adem hatimu gak ngomong terus, ky aku udah gak bisa ngelanjutin hubungan itu lagi karena aku sadar semua yang kamu bilang itu ada benernya dia masih cinta sama Tomi dan kata hidup dengan dia itu bagaikan drama cinta itu sekarang aku tahu maknanya saat ini aku mau kayak kamu fokus ke sekolah biar bisa jadi pak dokter naik helikopter dan aku aka setia sama kamu aja boleh kan?”
“Ya ya ya… he maksud loe apaan ka?”
“Aku akan setia jadi sahabatmu selamanya”
“Bicara sih enak tapi buktinya kemarin lusa lo kemana?”
“Aku sibuk belajar dari kamu jadi orang baik yang selalu jalani hidup ini dengan senyum walau sebenarnya sakit hati tapi nggak pernah lihatin semua itu masa walau kadang jengkel dan marah tapi kamu gak pernah benci sama orang yang membuatmu marah”
“Semua itu tinggal gimana kita bisa beradaptasi dengan suasana, dan lo gak bakal bisa jadi gue karena Andika Diano itu bukan Kyky Larasasti cewek bodoh yang ada di depan loe yang selalu dapet cemoohan karena semua hasilnya, tapi cemoohan itu yang membuat seorang Kyky larasati bisa duduk di sampingmu saat ini dan tetap kuat jalani hidupnya karena yang dia tahu hidup itu hanya sementara dan untuk dijalani bukan untuk dirasakan, ditangisi apa lagi di sesali”
“Karena menurut lo penyesalan dan menangisi nasib hanyalah menyia-nyiakan waktu, seperti tokoh yang ada di novel Frist Love Dilema yang menganggap waktu itu kejam ia datang dan pergi begitu saja bahkan waktu membawa hari baru yang mungkin itu akan jadi hari terakir kita bersama orang orang yang kita sayangi, ky janji ke aku ya jangan ninggalin aku sendiri.”
Kyky hanya tersenyum dan meledek nya “lebay lo, aku mau pulang ni gelasnya, makasih es nya ya lain kali gak usah lebay aku itu akan ada buat kamu kapanpun itu”
“Ya udah pulangnya sama aku ya tak boncengin sekalian aku mau main ke rumah Arip” Saat mereka berdua naik sepeda semua mata tertuju pada mereka dan sedikit kata yang menyakiti hati kyky terlontar dari mulut tetangganya “lho lho yang dulu apa udah basi kok ganti baru” Andika pun hanya tersenyum dan berhenti tepat di depan rumah kyky. Tapi Alloh telah berencana lain saat kyky turun mantan Andika lewat dengan tatapan sinis ke mereka berdua, saat kyky turun dari sepeda pergi ke rumah Latri untuk ngejelasin semuanya tapi sahabatnya itu marah dan menganggap kyky yang merusak semuanya hingga dia putus dan kyky juga yang merebut Andika dari dirinya, karena selama ini hanya kyky yang dekat dengan Andika.
“Gue kira loe teman masa kecil gue yang bisa jadi sahabat selamanya tapi ternyata? hanya ita yang bisa jadi sahabat gue gak usah kamu anggap aku sahabat lagi pergi lo pergi!”
Tanpa sepatah kata kyky pergi dari tempat itu dan saat ia melangkah ia melihat burung dara yang jatuh karena sayapnya terluka tapi burung itu tetap berusaha untuk terbang walau mungkin terbangnya tidak sempurna. Dari situ kyky sadar mungkin semua ini adalah ujian dan ia harus kuat untuk kembali memperbaiki semua ini walau dia tahu nanti tak akan bisa sesempurna yang dulu karena telah ada retakan di persabatanya itu.
Esok setelah beberapa hari kyky hanya kontak dengan andika dan ita, mereka sepakat ketemu di danau tempat mereka dulu bermain bersama dan mereka bertiga mengungkapkan isi hatinya berawal dari ita “Maaf aku gak terlalu mengerti dengan urusan ini yang aku tahu kamu putus dengan latri ya sudah semua selesai ternyata aku salah dan jika kamu tau kerena hubungangmu dengan latri persabatan kita bertiga rusak karena latri selalu urusin kamu dan cowok cowoknya yang lain” disambung Kyky “Memang keretakan ini berawal dari pertama kamu nembak latri saat itu dia berubah di tambah kemarin dia tahu kamu boncengin aku mungkin kita akan tetep jadi sahabat selamanya tapi gak selamanya kita akan bersama terus seperti dulu yang selalu bercanda lari larian dan kegilaan kegilaan yang lainnya tapi persahabatan kita yang sekarang akan selalu ada saat kita sedih saat kita senang bahkan disaat kita menangis karena srehabat akan selalu ada dimanapun kita berada karena dia tempatnya di hati kita.”
Andika “Maafin aku, karena aku kalian jadi begini tapi apapun yang terjadi kita akan jadi sahabat dan jika kalian kembali ke teman masa kecil kalian titip salam maafku karena aku gak mu yang katanya dengan ngungkapin isi hati kita di secarik kertas dan menerbangkanya bisa buat kita lega dan agar semua tahu persahabatan sangatlah berarti jika kita saling mengerti” saat itu Latri datang bersama mantanya Tomi dan teriak “Apa itu yang namanya sahabat dan apa aku bukan sahabat kalian lagi? maafkan aku ya karena aku telah lupa kalau ada kalian disaat aku terjatuh kalian yang selalu ada walau aku terkadang buat kalian jengkel tapi kalian tetap sayang sama aku dan buat andika maafin aku karena aku gak mencintaimu dan aku memilih dia. Maafin aku ya karena mungkin kita lebih baik jadi sahabat,” kalimat itu di potong dengan Ita “kelamaan pidatonya ayo kita terbangin pesawatnya aja terus ntar beli corah di traktir yang baru jadian tu.. satu dua tiga yeee. pesawat kertas itu telah terbang mereka nyanyiin lagu soundtrack suatu sinetron di RCTI
tunjukanlah pada dunia sahabat sejati kan abadi selamanya…
jangan pernah kau bersedih, jangan pernah kau rasakan sepi
jangan pernah kau bersedih jangan pernah kaurasakan sepi
meski semuanya telah pergi sahabat kan datangi sahabat yang sejati…
lagu itu yang selalu mereka nyanyiin saat mereka bersama dan lagu itu yang menjadi inspirasi buat mereka walaupun banyak perbedaan di antara mereka tapi mereka tetap menjadi sahabat.

Selesai







Cerpen Karangan: Intan Risky
Ini adalah ceritaku, Bintang, yang pada akhirnya harus meninggalkan sebuah surat untuk seseorang yang tak pernah menyadari bahwa cinta itu selalu sangat dekat, walaupun terkadang jalannya adalah jalan yang penuh liku. Kita mulai cerita ini dari sejak saat Dian, adikku satu-satunya itu belum bertemu dengan cowok bernama Gilang.
“Dian, kamu nggak biasanya tampil rapi begini? Mau kencan ya?” tanyaku dengan nada yang sedikit menggodanya. Wajah Dian tampak memerah malu tapi dengan cepat dia segera membalas pertanyaanku itu untuk menutupinya. “Aku kan cewek kak. Aku juga ingin tampil cantik sekali-kali” balas Dian dengan tersipu malu. Dian berjalan ke halaman depan sudah dengan penampilan yang sangat feminin. Ayah pun yang kebetulan sedang ada di teras rumah membaca koran pagi itu ikut melirik Dian dan mengomentari penampilannya yang tak biasa itu. “Wah, anak Ayah cantik sekali hari ini. Nggak biasanya kamu dandan secantik ini buat pergi ke kampus,” komentar Ayah. “Aku kan cewek Yah. Wajar dong aku tampil cantik,” kata Dian membela diri. “Ayah mengerti. Ayah cuma agak kaget kok tiba-tiba anak Ayah berdandan serapih dan secantik ini. Ayah bangga deh sama kamu Dian” puji Ayah. “Ya sudah, Bintang, kamu antar adikmu ya. Hati-hati di jalan” lanjut Ayah lagi. “Ah, tidak usah Yah. Aku naik bus saja hari ini. Aku sudah janji akan naik bus bareng Rina kemarin malam,” sambar Dian cepat. Dian pun bergegas pergi setelah berpamitan dan mencium tangan Ayahnya. Aku mengantarkan Dian sampai gerbang depan rumah. “Ayah, aku juga berangkat kuliah dulu ya,” kataku sambil mengecup tangan Ayah. “Hati-hati di jalan ya nak,” balas Ayah.
Dian menyukai seorang cowok di kelasnya namun tak pernah berani menunjukannya. Namun, dia terus secara sembunyi-sembunyi memperhatikan apa-apa saja hal yang disukai oleh Gilang, cowok idamannya itu supaya bisa dia terapkan untuk mulai membuatnya menengok ke arahnya. Terdengar sangat klise memang. Namun itulah yang adikku lakukan untuk menaklukkan hati pangeran incarannya.
“Oh, aku suka cewek yang dandanan dan sifatnya seperti cewek Korea yang banyak ada berseliweran di televisi. Mereka cakep-cakep lagi juga pandai menari. Itu sangat menarik buatku.” Cerita Gilang panjang lebar menjelaskan kriteria cewek idamannya pada teman-teman dekatnya sewaktu jam istirahat di kelas suatu siang.
Tanpa menunggu lama, sepulang dari kampus pun Dian langsung mengubah penampilannya. Dia mulai mencat rambutnya. Memakai kontak lens berwarna biru cerah yang membuat matanya terlihat berbinar dan jujur saja mirip boneka. “Wah, eksperimen gaya baru ya?” komentarku waktu itu. Tapi Dian hanya menanggapi komentarku itu dengan santai. “Ini namanya gaya yang trendi dan berkelas kak.” Dian pun mulai juga mempelajari tarian modern khas artis-artis Korea yang sedang naik daun saat ini. Dia mulai meninggalkan dunia tarik suara yang sudah cukup lama digelutinya sejak ia masih duduk di bangku SMP kelas satu dulu. Dan tentu saja yang menjadi fokusnya adalah menarik simpati Gilang dengan bela-belain belajar tarian ala grup-grup musik Korea tersebut. Dia selalu nampak kelelahan setiap pulang ke rumah sehingga langsung tidur di kamarnya.
“Aku juga suka cewek yang punya badan proporsional. Mereka yang seperti itu membuatku ingin memacarinya” lagi alasan lain dikemukakan oleh Gilang kepada teman-temannya dengan suara yang sedikit keras hingga bisa terdengar ke seluruh penjuru kelas yang agak sepi waktu istirahat siang hari itu. Gilang memang cowok tampan yang populer di sekolah. Banyak anak cewek di kampus menganggapnya sebagai sosok cowok sempurna dengan fisik bagus, jago olahraga, juga pintar dan banyak kelebihan lainnya. Paling tidak itulah yang aku dengar dari lingkungan sekitar kampus tentang dirinya. Dampak kepopuleran Gilang nampaknya juga telah mempengaruhi Dian adikku.
Semenjak itu pula Dian jadi rajin mengikuti program diet ketat dan juga berolahraga di sebuah pusat kebugaran tiga kali dalam seminggunya. Aku dan Ayah hanya bisa terheran-heran melihat Dian yang setiap hari selalu langsung masuk dan mengunci kamarnya. Wajahnya tampak selalu letih dan kelelahan akibat kegiatannya yang terlalu menguras tenaga. Tapi aku dan Ayah mengira bahwa Dian memang ingin melakukan transformasi besar pada dirinya menjadi pribadi yang lebih baik. Kami pun sepakat untuk mendukungnya. Sudah tiba waktunya bagi Dian untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, pikir kami waktu itu.
“Aku juga suka cewek yang cerdas dan modis” Itulah alasan ketiga dan terakhir yang diungkapkan Gilang kepada teman-temannya. Dian pun mengikutinya. Dia belajar semua tentang hal-hal tentang mode demi mendapatkan pengakuan dari Gilang sebagai cewek cerdas dan modis. Semua usahanya itu tak sia-sia.
Dian tersipu ketika dirinya ditembak Gilang. “Dian, kamu mau jadi pacarku?” Begitulah kira-kira pertanyaan yang dilontarkan Gilang untuk seketika melelehkan hati Dian untuk mengatakan jawaban yang singkat namun membuat kita melayang hingga ke langit tingkat tujuh saking bahagianya. Jawabannya tentu saja adalah ya. Mereka pun resmi berpacaran. Mereka menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih dengan bahagianya seperti kebanyakan pasangan pada umumnya. Namun setelah sekian lama berpacaran, mulai muncul sifat-sifat asli Gilang yang membuat Dian semakin tersiksa secara batiniah. Dian mulai sering pulang dan menangis sendirian di kamarnya tanpa Ayah tahu. Karena Dian pulang pada jam-jam dimana Ayah sedang bekerja di suatu sekolah swasta sebagai seorang kepala sekolah. Hanya aku yang selalu ada di rumah saat itu dan mendengar Dian menangisi dirinya sendiri di kamar.
Awalnya aku hanya bisa diam dan membiarkan Dian sampai dirinya kembali tenang. Aku pun memandangi foto ibu yang terbingkai bingkai foto kayu berwarna coklat tua yang diletakkan di atas meja kecil di sebelah televisi di ruang keluarga. Disitu ibu tampak cantik dengan kebaya warna biru tuanya. Di wajahnya terlukis senyuman yang mirip sekali dengan senyuman Dian. Andai saja ibu masih ada saat ini dan melihat Dian yang demikian pastilah ibu akan sangat sedih.
Hari-hari terus berlalu bagi Dian dengan penuh air mata. “Pokoknya kamu harus menuruti apa kataku! Kalau tidak kau akan terima akibatnya!” begitulah ancaman yang diumumkan oleh Gilang kepada Dian. Sebagai seorang wanita yang secara fisik tentu tak sekuat laki-laki, Dian pun tak berani melawan Gilang. Aku pun tak tahan melihat penderitaan Dian yang semakin menjadi dari hari ke hari. Dian tak pernah mau menceritakan hubungan asmaranya yang sudah sangat pantas untuk segera diakhiri. Hingga suatu hari aku pun akhirnya muak menahan emosi ini sendiri dan membujuk Dian untuk bercerita. “Aku kenal kamu hampir 20 tahun. Itu bukan waktu yang sebentar. Ini bukan dirimu.” kataku. “Tapi kak, aku mau dia menyukaiku. Ini upayaku untuk menemukan cinta. Apa itu salah?” Inilah yang aku khawatirkan. Semuanya nyata. Aku menghela nafas. “Ini bukan persoalan salah atau benar.” Dia menatapku dengan seksama seolah menungguku melanjutkan kalimatku. “Kamu boleh saja berusaha menemukan cinta, tapi bukan seperti ini caranya. Maksudku adalah kau tak perlu menjadi orang lain untuk menemukan cinta. Jadilah diri sendiri, tapi tetaplah rendah hati. Percayalah, kamu akan temukan cinta, cinta yang sejati.” Kami berdua berdebat hebat waktu itu. Namun, akhirnya Dian mau mengerti dan sadar bahwa kakaknya benar. Dian yang selama ini menggilai Gilang bukanlah dirinya melainkan cerminan akan apa yang diinginkan Gilang akan sosok cewek idamannya.
Keesokan harinya aku pun mengantar Dian ke kampus karena memang kami berkuliah di universitas yang sama. Disana kami pun berpisah di persimpangan di depan koridor menuju kelas. Saat aku hendak melalui koridor yang ada dan menuju tangga untuk naik ke lantai tiga, aku melihat Dian bertemu Gilang. Dian yang sekarang adalah Dian yang dulu aku kenal. Dian yang periang dan nyaman dengan gayanya sendiri. Rambutnya yang hitam legam dan berombak sebahu terurai dan matanya yang coklat tampak berbinar. Ketika bertemu Dian yang sekarang, Gilang tampak kaget. “Dian?! Apa ini beneran kamu? Aku kan sudah bilang kalau aku suka tampilan ala Korea. Kenapa kamu berubah?! Kamu mau cari gara-gara sama aku?!” Dian tampak santai menghadapi Gilang. Di wajahnya tak tersirat sedikit pun ketakutan pada cowok yang dulu sempat membuatnya tergila-gila, jatuh cinta, berbunga-bunga, dan bahkan menyakitinya. “Inilah aku. Kalau kamu gak suka ya sudah, kita putus aja. Masalah selesai” jawab Dian dengan penuh percaya diri. Sinar wajahnya nampak bercahayakan keberanian yang dapat terpancar dari kejauhan aku memandang. Aku yang sempat mendengar keributan itu memutuskan untuk berhenti dan mendekat ke arah mereka sambil tetap menjaga jarakku serta mengamati mereka dari kejauhan.
“Beraninya kamu melawan kehendakku?! Dasar..!” tangan Gilang pun menyambar cepat menuju ke arah wajah Dian. Dian tak sempat mengelak. Namun, aku tahu kalau ini akan terjadi. “Apa yang kau lakukan?! Jangan campuri urusan kami berdua!” teriak Gilang ketika aku berhasil menepis tangannya dan mendorongnya dengan sekuat tenaga hingga ia jatuh ke lantai. Dian selamat dari tamparan maut itu. “Jangan ganggu adikku!” suaraku terdengar menggelegar hingga menarik perhatian orang banyak yang berseliweran di kampus hingga mereka semua menoleh ke arah kami. “Sudah cukup Dian menderita karenamu!” Gilang tak mau kalah. Dia bangkit berdiri dan berlari ke arahku hendak melayangkan tinjunya ke wajahku. Aku pun dengan sigap menghindarinya dan mendorong jatuh dirinya. Kami berdua pun bergulat dengan hebat di lantai saat itu. Dosen-dosen dan satpam kampus yang mendengar keributan itu segera datang dan melerai kami berdua. Kami pun berakhir di ruangan dekan untuk menerima skorsing selama sebulan karena ulah kami.

Dian pun membuka amplop suratku satu-satunya yang sengaja aku tinggalkan untuknya mengetahui bahwa aku akan segera pergi. Air mata Dian pun tak terbendung membaca isi surat yang kutuliskan tersebut.
“Dian, maafkan kakak kalau kakak seolah tak peduli padamu waktu kau sedang mengalami masa-masa sulit itu. Kakak pikir kakak harus diam untuk memberimu waktu sendiri. Nampaknya kakak telah membuat kesalahan. Kalau saja kakak tahu waktu itu kau butuh dukungan dan kau mau bercerita mungkin kakak bisa mencarikan jalan keluar yang lebih baik tanpa harus berkelahi dengannya. Namun, satu hal yang harus kamu ingat. Akhirnya semua indah pada waktunya Dian. Maaf kakak tak bisa menemanimu di hari yang paling berbahagia untukmu dan Gilang. Tetapi, walaupun tubuh kakak telah habis lenyap dimakan waktu dan penyakit ini, kakak akan selalu ada, bukan di sampingmu, tapi di dalam hatimu. Selamanya. Dengan cinta, Bintang.”
“Itulah surat yang ditinggalkan paman kalian, Bintang untuk ibu kalian sebelum dia pergi ke surga,” cerita Gilang kepada kedua anaknya Cahaya dan Kasih. “Surat itulah yang menyatukan kami berdua. Ibu kalian menyebut surat tersebut dengan sebutan surat kristal dari Bintang,” tutup Gilang. Dia mengecup kening kedua putri kecilnya dan mengucapkan selamat malam untuk keduanya.







Cerpen Karangan: Widyanto Gunadi


Mike. Adalah nama yang pernah menjadi bagian hidupku. Dia adalah orang yang pernah mengisi hari-hariku dengan cintanya. Tapi cinta tidak selamanya indah. Saat lulus SMA, aku dan Mike memilih mengakhiri hubungan kami yang sudah dua tahun kami jalani. Entah kenapa saat Mike menanyakan keputusanku. Aku dengan pelan mengangguk setuju. Itu adalah penyesalan yang selalu membuatku kecewa setengah mati. Kini aku tidak bisa menemukan pengganti Mike. Meskipun aku kuliah di Universitas yang cukup termahsyur di kota kami. Yang mahasiswa-mahasiswanya semua ganteng-ganteng plus smart juga. Tapi aku nggak pernah menemukan seseorang yang dapat menggantikan Mike di hati ini. Nama Mike sudah terlanjur ku tulis dalam-dalam di hatiku. Hingga sulit bagiku untuk menghapus namanya begitu saja.
Setiap kali aku berniat untuk Move On! Namun lagi-lagi aku nggak bisa. Wajah Mike yang sendu dan penuh ketenangan selalu hadir di ingatanku. Entah sudah 3 tahun tidak pernah bertemu lagi dengan Mike. Berangsur-angsur aku merasakan sudah sedikit demi sedikit bayangan Mike menjauh dari pikiran. Kini berganti dengan seorang cowok mahasiswa baru di Jurusanku. Yang kebetulan satu ruangan denganku. Namanya Chiko. Dia sangat baik dan langsung akrab denganku. Entah mungkin karena aku juga yang pandai bergaul dan enggak sombong kaya yang lainnya.
“Alissa?” panggil Chiko sambil berlari kearahku.
“ada apa Chiko?” tanyaku singkat.
“loe ada acara nggak ntar malam?” Chiko balik nanya.
“nggak tau! Palingan lanjutin ngetik proposal aja!” jawabku enteng.
Chiko tampak berpikir.
“ya udah gue janji bantuin loe bikin proposal loe. Tapi loe mau nggak jalan sama gue malam ini? Sekalian refreshing dikit dari kegiatan kuliahan?” bujuk Chiko. Dan aku hanya tersenyum.
“kenapa kok senyum?” tanya Chiko agak risih dengan tingkahku.
“ya abis loe betul juga Chiko? Gue lama nggak jalan-jalan. Soalnya setiap hari selalu ada tugas loe tau juga kan..” ucapku sambil tersenyum lagi.
“berarti mau dong jalan sama gue ya, Al?” tanya Chiko memastikan.
“okey, Chikko. Gue mau!”
Chikko tampak senang. Dan hampir memeluk aku. Aku menjauh dan dia tampak tersenyum geli.
“yess!” seru Chiko. “Kalo gitu gue anterin pulang ya, Alissa?”
“gimana ya? Gue rasa gue bisa pulang sendiri deh.” gumam ku sambil menepuk-nepuk daguku.
“yah elu, Alissa! Alasan doang. Udah yuk gue anterin ya?” pinta Chiko memohon-mohon sambil membungkukkan badannya.
Aku sengaja diam. Dan sengaja membuat Chikko menunggu.
“aduh aduh? Punggung ku udah pegel nih, Al?” saat Chikko berdiri, aku sudah nggak ada di depannya. Jadi, dia kelabakan sendiri. Aku langsung nyamperin dia dari belakangnya.
“kena deh!” gurauku sambil menepuk bahu Chikko. Dan Chikko tampak terheran-heran.
“ihh elo ya, Alissa bikin gue bingung aja!” ucap Chiko sambil memencet hidungku. Tidak sakit sih, tapi aku balas dengan mencubit pinggangnya. Lalu aku langsung lari dan Chiko segera mengejar langkahku yang tidak terlalu cepat larinya.
Ah! Hari yang indah! Hehe.
Malam ini Chiko menjemputku dari rumah. Dia berpamitan dengan sangat sopan. Orangtuaku percaya dengan Chiko yang memang anak orang baik-baik dari keluarga yang berada di rentetan konglomerat.
Saat sampai di Taman. Ternyata Chikko sudah menyediakan dua kursi dan satu meja bundar semua bercat warna pink. Dan menambah indahnya di atas meja ada dua minuman jus dan sebuah kotak warna biru berpita pink. Di salah satu meja ada sebuah gitar. Sejenak aku terpesona melihat kejutan dari Chikko teman baruku ini.
“ini semua buat kamu Al.” ucap Chiko sambil menggenggam erat tanganku dan memandangku dengan penuh kebahagiaan.
Aku cuman mengangguk.
Lalu Chiko mempersilakanku duduk. Dan dia langsung duduk sambil memainkan gitarnya. Lagunya “Someone Like You”. Aku sangat tersentuh mendengar lagu Adelle. Yang dinyanyikan Chiko dengan penuh perasaan. Aku menduga bahwa Chikko ada maksud di balik semua ini.
Saat berhenti menyanyi Chikko menyuruhku membuka kotak itu. Lalu dengan hati-hati aku membukanya. Ternyata di dalamnya ada es krim, coklat dan sebuah kotak surat. Lalu aku membacanya “ALISSA MAUKAH KAMU MENJADI PACARKU?”
aku terkagum.
Chikko menggenggam tanganku.
“Alissa maukah kamu menjadi pacarku? Jujur selama ini aku diam-diam suka sama kamu..” ucap Chiko penuh harapan.
Aku menunduk malu. Dan merasakan jantungku berdebar-debar dan berdegup kencang.
“pliss, Alissa? Aku mohon jawab sekarang. Kamu adalah orang pertama yang telah mengubah duniaku menjadi terasa indah..” tutur Chikko tulus.
Aku mengangkat mukaku. Dan memandang Chiko yang tampak gugup juga. Tapi dia tetap tenang dan sangat tenang saatku memandangnya. Tiba-tiba aku mengingat Mike. Tapi dengan cepat aku membuang ingatan itu dan berdoa dalam hati untuk melupakan nama Mike selamanya.
“A.. Aku mau, Chiko..” jawabku akhirnya. Dan Chiko tampak bahagia. Aku juga merasa lega karena Chiko juga mengubah duniaku menjadi terasa indah dari sebelumnya.
Malam ini kami resmi jadian. Dan kami melepaskan sebuah balon yang berisi harapan-harapan indah aku dan Chikko.
Pesan Moral: “Jangan pernah putus asa! Jalan untuk Move On selalu terbuka :)”








Cerpen Karangan: Mariana
Di siang hari ini tampak para siswa-siswa di sekolah ku riuh, ada yang lari-larian, ngobrol bareng teman-teman mereka dan sebagainya. Sama seperti orang di pasar, gak heran dong kalau mereka ribut kayak gitu karena hari ini bebas, gak ada kegiatan belajar mengajar.
Tapi di sisi lain hanya aku yang duduk menyendiri di taman di depan kelasku, memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya di pikirkan. ya, hal apa lagi kalau bukan soal cowok.
Aku menghela napas singkat dan kemudian berkata.
“hufftt.. seneng banget deh kalau punya cowok perhatian dan romantis kayak dia,” kataku pelan.
Lalu seseorang pun datang menghampiriku, dan dia tak lain adalah Nudi.
“hei! Lagi ngapain sih, kok ngmong-ngomong sendiri?” tanya Nudi dengan nada tinggi.
“ah, kamu ngagetin aku tau!” kataku sambil memukul lengan Nudi.
“heheh.. sori-sori. Aku kan Cuma iseng aja, oh ya kamu kenapa sih Na? Kok tadi ngomong-ngomong sendiri?”
“hmm.. gak apa apa. kamu kepo banget ya! Pengen tau aja urusan orang,” ujarku dengan marah-marah sedikit.
“sekali-sekali gak apa-apa kan? Ayo dong kasih tau aku,” ajak nudi yang menjadi penasaran.
“gak usah deh, aku pergi dulu.” Kataku lalu beranjak pergi meninggalkan Nudi.
“yahh yahh! Kasih tau aku dong na!” teriak Nudi.
Nudi yang ingin tau apa yang aku omongin tadi, aku hanya pergi menjauh darinya entah pergi kemana.
Esok pun tiba
Pagi-pagi sekali aku berangkat ke sekolah, aku ingin sekali cepat-cepat melihatnya. Namun sesampai aku di depan kelas, aku hanya melihat ruang kelas yang kosong sepi tak ada orang di dalam kelas itu. Wajar saja ini masih pagi-pagi sekali tentu saja belum banyak murid-murid yang datang termasuk dia. Bahkan yang ada hanya satu atau dua orang saja.
Aku pun berjalan menuju kelasku.
“hari ini mungkin aku lagi sial aja, lagian itu juga masih pagi banget.” gumamku
“ya sudah ah jangan dipikirkan lagi,” ujarku sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“TENG TENG TENG TENG.. saatnya istirahat para siswa dipersilahkan untuk beristirahat..” ya, begitulah bunyi bel di sekolahku. terdengar bagus bukan? Tentu saja, sekolahku adalah sekolah yang berwawasan lingkungan bisa di bilang sekolah yang selalu bersih setiap hari.
Oh ya, Namaku Rena ayuwidya Permata biasa di panggil Nana. aku juga punya sahabat loh di sekolahku namanya Cinta Putri Dwijaya bisa dipanggil Putri bisa juga Cinta.
“eh Na, ke kantin yuk!” ajak Putri
“mm, yuk!” jawabku kemudian.
Sesampai di kantin aku membeli makanan yang menurutku enak, sementara Putri apa aja yang dimakannya itu sama aja enak
Aku dan Putri sudah sahabatan sejak masuk SMP ini. Kami berdua punya kebiasaan yang sama loh. Oh ya, kalau masalah cowok, Putri Jagonya bahkan sekarang aja dia lagi PDKT sama orang yang disukainya, Namanya Andi.
Begitulah kisah persahabatan kita.
Setelah selesai menyantap makanan yang kami beli tadi, aku dan Putri kembali ke kelas. saat di perjalanan aku melihat dia, orang yang kusukai, tapi dia gak tau itu. Aku berharap aja sih dia bisa melihat aku di hatinya.
“itu dia!” seruku yang membuat Putri kaget.
“siapa-siapa?” tanya putri dengan berulang-ulang.
“eh gak kok Put. Bukan apa-apa,” jawabku kemudian.
“ih kamu Na! aku kira kenapa,” kata putri
“ya udah, yuk lanjut ke kelas aja.” Ajakku.
Kami pun berjalan menuju kelas.
Sesampai di kelas…
“put, aku mau cerita nih” kataku pelan.
“cerita aja nana, aku pendengar setiamu loh..” kata putri sambil tersenyum
“gini kamu tau gak yang namanya Argi? Dia orangnya gimana sih? terus dia udah punya pacar gak ya?” tanyaku yang terlalu berlebihan
“mm.. argi ya? Aku gak tau sih dia orangnya gimana, tapi yang aku tau dia udah punya pacar loh, pacarnya cantik,” jelas putri
“wah iya ya? jadi minder deh,” kataku
“emangnya kenapa Na? Kamu suka ya sama dia?”
“gak kok, aku hanya nanya ajaa” sambil menggelengkan kepala
“ah, bilang aja nana aku tau kok kamu suka ya sama dia” goda putri.
“iya aku suka sama dia, tapi mungkin biar sajalah. Toh dia juga udah punya pacar kan? Jadi biar aja” kataku dengan nada lemah
“sabar ya Na, pasti kam dapat yang lebih baik dari dia kok. Aku yakin itu”
“iya, makasih ya Put. kamu emang sahabat yang paling bisa ngertiin aku”
Aku pun memeluk Putri Sahabatku dengan tulus..
“iya sama-sama Nana Sayang,” ucap Putri sambil melepaskan Pelukan Sahabatanku.
Nudi yang sengaja diam-diam mendengar pembicaraan kami berdua tadi akhirnya ia tau juga apa yang sebenarnya aku pikirkan. Nudi pun pergi menjauh, tampaknya nudi seperti cembur wajahnya tidak terlihat baik. Aku yang melihatnya singkat, aku berniat akan menemuinya saat pulang sekolah nanti.
Bel pulang berbunyi, aku bersiap-siap setelah selesai mengatur alat tulisku aku pun segera pergi menuju kelas nudi yang hanya terletak bersebelahan dengan kelasku. Sampai di kelas aku hanya melihat nudi duduk sendirian di bangkunya sementara murid-murid di kelasnya sudah pada pulang.
“Nudi..” seruku memanggil namanya.
“eh Nana. Ada apa na? Kok kamu belum pulang sih?” nudi menoleh dengan wajah tersenyum.
“aku hanya ingin ketemu kamu kok nud,” kataku polos
“ada yang mau kamu katakan?” tanya nudi.
“hmm.. kamu nguping pembicaraan aku dan putri tadi kan? Terus kenapa kamu pergi begitu aja? Wajahmu terlihat agak aneh tadi. Ada apa nudi?” tanyaku dengan hati-hati
“iya, maaf ya. Gak kok Na, aku hanya ini aja waktu kamu bilang kamu suka sama Argi,”
“memang kenapa nud? aku hanya sekedar suka aja kok! Toh dia juga udah punya pacar kan?” tambahku
“tapi kamu masih suka kan sama dia?” tanyanya lagi
“udah gak kok, aku malah udah suka sama seseorang”
“siapa Na?”
“kamu nudi..”
“hah? Aku?” tanya nudi agak heran
“iya kamu..”
Beberapa menit kemudian kami hanya diam tanpa mengucap 1 kata pun.. lalu tiba-tiba nudi mengatakan sesuatu.
“Nana, sebenarnya aku juga suka sama kamu. Udah lama banget perasaan ini aku simpan, sejak melihatmu dan berteman denganmu rasa itu mulai tumbuh benih-benih cinta. dan sekarang ini baru terungkapkan,”
“nana, kamu mau gak jadi pacar aku selamanya?” tanya nudi dengan serius
Aku hanya terdiam mendengarkan kata-kata nudi, ternyata selama ini aku gak tau kalau nudi suka sama aku. Aku merasa bersalah banget sudah mencampakkan nudi bahkan hampir mengecewakan dia. Aku pun menghela napas panjang..
“huufftt… nudi maaf ya aku hampir ngecewain kamu, tapi kali ini gak akan ngecewain kamu lagi kok,” kataku dengan memandang wajah nudi lekat-lekat
“iya gak apa-apa kok nana. Jadi gimana kamu mau gak?”
“hmm.. iya” kataku sambil mengangguk pelan.
“yeahh!” seru nudi.
Aku bahagia banget begitu juga dengan nudi karena yang aku harapkan selama ini datang padaku, walaupun bukan Argi tapi Nudi yang terbaik. Aku dan Nudi menjalaninya dengan sangat baik. Terima kasih ya Allah karena engkau telah memberi seseorang yang sangat baik dan mengerti dengan kekurangan dan keadaanku saat ini..

THE END







Cerpen Karangan: Wahyuni Cahya
Masa Orientasi Siswa Baru (MOS) telah usai. Putri kini telah beradaptasi dengan lingkungan barunya. Dia sudah mempunyai banyak teman baru disana. Kini dia mempunyai teman akrab di kelasnya yaitu Ais, Erna, Ani, Indi, Ari dan Fela. Mereka sering bermain bersama saat jam istirahat tiba. Awalnya hanya teman ngobrol biasa. Tetapi, mungkin karena sering main bersama mereka semua seperti membentuk gank. Tetapi mereka semua juga akrab dengan teman-teman sekelas yang lainnya. Hanya mereka bertujuh lebih sering ngumpul bareng saat jam istirahat. Setelah sepulang sekolah mereka sering main ke rumah masing-masing bergantian sekedar dolan ingin tau tempat tinggalnya.
Suatu hari saat jam pelajaran kosong, suasana ruangan sangat ramai. Namun entah mengapa Putri duduk terdiam di bangkunya. Sedangkan teman-teman lainnya pada asyik ngobrol-ngobrol dengan serunya menikmati jam pelajaran yang kosong itu. Lamunannya buyar saat seorang teman menyapanya.
“Put, lagi kenapa kamu?” tanya Erna.
“Eh, eng.. aku nggak apa-apa kok cuma lagi agak ngantuk aja.” jawab Putri yang sedikit kaget.
“Kenapa, semalem abis begadang?” tanya Erna lagi.
“Ya enggak juga sih.” jawab Putri singkat.
“Oh, ya udah kalau begitu tidur aja sebentar lagian jam pelajaran lagi kosong.” saran Erna.
“Iya oke deh.” jawab Putri.
Lalu Erna pun meninggalkan Putri duduk terdiam di bangkunya kembali ngobrol-ngobrol dengan temannya. Sebenarnya Putri lagi merasa jenuh saja. Dia ingin ada yang antar jemput sekolahnya. Selama ini dia berangkat sekolah diantar ayahnya sekalian berangkat kerja. Pulangnya dia harus naik angkutan umum sendiri. Apa lagi dari sekolahnya harus naik angkutan umum tiga kali untuk sampai ke rumahnya. Dan tak jarang dia pun sering pulang telat.
Hari demi hari dia tetap menjalani sekolahnya seperti biasa. Dan di suatu hari waktu sepulang sekolah ada perasaan berbeda di hatinya. Sedang jenuh-jenuhnya karena sudah lama menunggu angkutan umum yang terakhir untuk sampai ke rumahnya. Putri menggerutu di dalam hatinya, “Mana sih angkutannya nggak lewal-lewat mana perutku udah laper banget lagi.” Dia memang sudah lama menunggu angkutan umum jurusannya sekitar setengah jam yang lalu.
Tak lama kemudian angkutan umum yang ditunggu-tunggu datang juga. Segera dilambaikan tangannya ke arah angkutan tadi. Angkutan tersebut pun berhenti di depannya. Dia segera naik ke dalam dan duduk di dekat pintu. Tak sengaja Putri melihat sorot mata bening di sebelahnya. Seorang cowok tampan tinggi putih seperti keturunan cina karena matanya yang sipit. Sejenak jantungnya seakan berhenti berdetak ketika menatap sorot mata bening itu. Seakan merasakan ada sebuah benih cinta yang tumbuh di dalam hatinya. Ya, cinta pada pandangan pertama.
Sejenak Putri dan mata bening itu saling bertatapan namun Putri segera mengalihkan pandangannya. Di dalam hatinya dia berkata, “Ganteng banget cowok ini. Mimpi apa aku semalem bisa ketemu cowok ganteng kaya gini.”
Sesampai di rumah, Putri masih terbayang-bayang wajah cowok tampan itu. Di kamarnya dia senyum-senyum sendiri membayangkan cowok itu. Dia berharap semoga setiap sepulang sekolah bisa seangkutan bareng cowok itu. Semenjak itulah rasa bosan yang menyelimuti hati Putri hilang begitu saja. Malah dia nampak semangat berangkat sekolah dan pulang naik angkutan umum sangat ditunggu-tunggu. Tak lupa Putri menceritakan pertemuannya dengan seorang cowok tampan itu ke teman akrabnya yang bernama Erna.
Waktu yang dinanti-nanti pun tiba. Bel sekolah berbunyi menandakan waktu belajar mengajar telah usai. Semua siswa berbondong-bondong keluar dari sekolahan. Putri nampak semangat untuk cepat-cepat pulang ke rumah. Ada harapan di dalam wajahnya. Ya, di dalam hatinya berharap semoga nanti bisa bertemu cowok tampan yang kemarin. Dari kejauhan terlihat angkutan yang sedang ditunggunya melaju. Putri terlihat gelisah dan jantungnya pun berdebar kencang. Harapan untuk bertemu dengan cowok tampan itu sangat besar. Dilambaikan tangannya ke arah angkutan tadi dan Putri pun bergegas masuk ke dalam. Terlihat sepasang mata bening sedang duduk di pojok belakang asyik bercakap-cakap dengan temannya. Putri menatap sebentar dan ternyata sepasang mata bening itu adalah cowok tampan kemarin. Tapi Putri belum yakin yang barusan dilihatnya. Kemudian Putri menatap kembali cowok tadi. Ternyata memang benar cowok itu adalah cowok tampan yang kemarin. Hatinya seolah berbunga-bunga bisa bertemu kembali cowok tampan itu.
Keesokan harinya Putri menceritakan kembali pertemuannya dengan teman akrabnya yaitu Erna. Setibanya di sekolah memanggil Erna.
“Er, sini sebentar.” ajak Putri.
Kemudian diraih tangan Erna menuju ke samping kelasnya.
“Ada apa sih Put?” tanya Erna.
Tidak biasanya Putri bersikap seperti itu.
“Tau nggak Er, kemaren aku seangkot lagi sama cowok ganteng itu. Pokoknya aku seneng banget.” celoteh Putri dengan senyum-senyum centilnya. Putri nampak sangat gembira.
“Kaya apa sih cowok itu aku jadi penasaran.” Erna penasaran.
“Pokoknya ganteng banget deh.” jawabnya meyakinkan.
Bel masuk telah berbunyi, waktu belajar mengajar segera dimulai. Wajah Putri nampak berseri-seri masih terbayang cowok tampan pujaannya. Terkadang sering tidak fokus dalam pelajarannya.
Sekarang hampir setiap sepulang sekolah Putri bisa seangkot bareng cowok tampan pujaannya. Ingin rasanya bisa berkenalan dan tahu namanya. Kebetulan Putri seangkot dengan cowok pujaannya dan lagi memakai baju identitasnya. Ternyata dia bersekolah di sebuah STM terkenal di kotanya. Di bajunya terpasang nama lengkapnya. Putri colong-colongan menyelidik tulisan nama lengkap di bajunya. Dibacanya tulisan di bajunya dan ternyata dia bernama NARWOTO.
“Ganteng banget sih kamu… apa lagi kalau lagi senyum. Idih manisnya…” Putri berkata dalam hatinya.
Di sekolah Putri menceritakan lagi pertemuannya dengan cowok pujaannya.
“Er, kemaren aku ketemu lagi sama cowok itu. Sekarang aku udah tau namanya.” cerita Putri.
“Sapa namanya?” Erna penasaran.
“Namanya NARWOTO.” jawab Putri.
“NARWOTO?!” Erna nampak kaget dan tak percaya dengan nama itu. Mungkin karena namanya terlalu tua untuk anak muda jaman sekarang.
“Siapa Put?” tiba-tiba Esti yang sedari tadi di sebelahnya mendengarkan percakapan Putri dan Erna melontarkan pertanyaan. Dari raut wajahnya sepertinya Esti mengenali nama yang barusan Putri sebutkan.
“Narwoto. Emangnya kenapa Es?” tanya Putri.
“Narwoto yang anaknya putih, agak kurus terus matanya sipit bukan?” tanya Esti menyelidik.
“Iya Es, memangnya kamu kenal sama dia?” Putri jadi penasaran.
“Ya iya lah dia temen SMP aku tau.” jawab Esti.
“Terus dia anak mana sih? Dia ganteng banget ya Es..?” Putri makin penasaran.
“Dia tetangga desa aku. Iya memang dia ganteng. Dulu waktu SMP banyak disukai sama cewek-cewek. Apa lagi kakaknya yang cewek cantik banget terus putih ya kaya Woto itu. Aku juga punya fotonya Woto.” Esti menjelaskan.
“Masa? Aku minta donk, besok dibawa ya..” Putri mengharap.
“Insya Allah. Tapi fotonya lagi bareng sama temen-temen pas study banding.” jawab Esti.
“Ya nggak apa-apa yang penting ada Woto.” jawab Putri dengan senyumnya.
Esok harinya Putri menagih janjinya kepada Esti. Dimintanya foto Woto dari tangan Esti.
Sudah beberapa hari ini Putri tidak bertemu Woto lagi di angkot. Di hatinya ada rasa kangen karena lama tidak melihat wajahnya yang tampan. Oh Tuhan ada apa ini? Apakah ini yang dinamakan cinta. Dan sejak kapan Putri tau tentang cinta? Bukankah dia tah pernah merasakan cinta. Dulu waktu di SMP dia banyak disukai cowok-cowok tetapi dia tidak pernah memberikan respon apa-apa. Apa mungkin dia belum ingin mengenal cinta atau dia belum menemukan seseorang yang mampu mengisi hatinya? Tapi mengapa dia memilih seseorang yang baru dia kenal dan belum tahu betul karakternya. Tetapi itulah yang sedang Putri rasakan. Entah itu perasaan apa dan bagaimana datangnya.
Hari ini mungkin Putri bernasib mujur. Seketika rasa kangen itu hilang dari hatinya. Setelah melambaikan tangannya ke arah angkutan dan mau masuk ke dalam, Putri sempat terkejut melihat semua penumpang cowok-cowok anak sekolah semua. Satu di antaranya adalah Woto. Ternyata semua cowok-cowok itu adalah teman Woto. Putri hanya duduk terdiam karena malu. Tak lama kemudian salah satu di antara mereka meminta kenalan. Woto pun mulai menggoda Putri meminta kenalan. Tadinya Putri hanya diam tidak merespon permintaan perkenalannya. Tetapi setelah salah satu di antaranya menyebut namanya, Putri akhirnya mau angkat suara. Satu per satu Putri berjabat tangan dengan mereka. Putri tak mengerti mengapa mereka tahu namanya, tetapi tak peduli mereka tahu namanya dari mana. Baginya bisa berkenalan dengan Woto itu sudah sangat bahagia. Mungkin menjadi kenangan yang tidak akan pernah dilupakan.
Woto sempat meminta nomor Hpnya dan Putri pun memberikannya. Sejak itulah kedekatan Woto dan Putri mulai terjalin. Setiap sepulang sekolah Woto selalu menghubunginya melalui SMS atau menelpon sekedar ngobrol sebentar. Putri merasakan kalau Woto sepertinya juga menyukainya. Bukanya GR tapi kelihatannya seperti itu. Tetapi Putri belum yakin dengan perasaannya. Apa mungkin cowok setampan Woto naksir sama aku?
Di kamarnya Putri masih muter-muter kaya obat nyamuk sambil megangin kepalanya. Dia masih tidak percaya dengan yang barusan didengarnya. Rasanya seperti mimpi, mencoba mencubit pipinya sendiri tapi rasanya sakit sekali. Ini memang nyata bukan halusinasi semata. Ternyata perasaannya selama ini benar kalau Woto pun menyimpan perasaan yang sama. Tadi Woto nembak Putri walaupun nggak ngomong langsung hanya lewat telepon. Dia tidak langsung memberikan jawaban, butuh waktu untuk menjawab katanya. Woto juga mengerti dengan keputusan Putri dan memberikan waktu untuk menjawabnya. Putri masih bingung harus menjawab apa. Dia memang mencintai Woto tapi apa ini semua tidak terlalu cepat untuk menjalin hubungan. Woto dan Putri memang belum terlalu lama saling mengenal mungkin sekitar 6 bulan. Mereka berdua pun jarang bertemu, komunikasi hanya lewat ponselnya.
Di kelasnya Putri curhat dengan Esti, dia menceritakan semuanya. Memang selama ini Erna dan Esti lah yang tahu tentang kedekatannya dengan Woto. Sedikit ingin mengetahui karakternya, secara Esti lah yang pernah sekolah bareng Woto malah 3 tahun sekelas terus. Putri meminta pendapat Esti, katanya diterima saja Woto itu anaknya baik dan pengertian.
Setelah beberapa hari Putri menunda jawabannya akhirnya dia menerima cintanya. Kini Putri dan Woto sudah resmi jadian. Sudah beberapa bulan menjalani hubungannya nampaknya kegembiraan masih nampak di wajahnya. Saling percaya dan memahami itu lah yang menjadi kunci hubungannya selama ini. Mereka sangat menikmati masa pacarannya. Setiap malam minggu atau hari minggu mereka menyelakan waktu sedikit sekedar mencari udara segar membuang penat dan melepaskan rasa kangennya. Hubungan mereka terlihat sangat romantis. Mungkin mereka telah menemukan tambatan hatinya yang selama ini diidamkan. Bahagia selalu terlukis di senyum manisnya. Ternyata cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Teman-temannya kadang merasa iri dengan hubungannya yang romantis. Putri tersenyum dan menjawab hanya satu kuncinya saling percaya.
Di buku diarinya Putri menulis, mungkin ini yang pertama kalinya dia membuat kata-kata indah.
“Memandangmu adalah suatu anugrah bagiku,
Mengenalmu adalah suatu kebanggaan bagi diriku,
Memanggil namamu adalah suatu keindahan bagi hatiku,
Mendengar suaramu adalah kedamaian bagi jiwaku,
Bagiku kau lah lelaki yang terhebat dalam hidupku,
Dan kan selalu ada dalam hatiku.”

SELESAI









Cerpen Karangan: Liana Suci R
Suara hingar bingar memenuhi kelas seperti biasanya.. Aku dan sahabatku Herma sedang duduk di sudut kelas sambil memainkan PSP yang biasa aku bawa sembari menunggu datangnya guru. Disaat tengah asik bermain tiba-tiba saja Andi Sang Ketua Kelas berlari memasuki ruangan kelas. Dengan kecepatan kilat Aku segera menyimpan mainanku.
Pak Guru memasuki ruangan kelas dengan sesosok gadis bersamanya, gadis yang tidak pernah kutemui sebelumnya di sekolah ini. Dalam hati aku pun bertanya-tanya siapakah gadis tersebut. Tidak dapat aku palingkan wajahku dari pesona parasnya meskipun hanya satu detik.
Setelah selesai memperkenalkan gadis cantik itu, Pak Guru mempersilahkan dia untuk duduk. Aku pun memperhatikan langkah demi langkahnya yang semakin lama semakin dekat. Aku tak menyangka bahwa dia akan duduk di sampingku. Di pun menduduki bangku itu dan memberi senyum kecil kepadaku. Sontak aku langsung salah tingkah karena senyum menawannya itu.
Sudah hampir mau bel pulang sekolah, aku pun masih diam membisu tak dapat berkata apa-apa bagaikan diterpa salju di musim dingin.
Bel pun berdering menandakan waktu sekolah telah berakhir, suara yang bagi sebagian murid meruapakan alunan melodi yang indah tapi tidak untukku. Aku merasa sedikit sedih karena harus berpisah dengannya.
Kubulatkan tekadku, kusapa dirinya di depan gerbang sekolah sambil berjalan dengan sedikit keberanian yang kumiliki. “Hmhm.. Aku boleh kenalan gak sama kamu?” dengan sedikit terbata-bata kalimat itu meluncur dari mulutku. “Hahaha… boleh kok, nama aku Rena nama kamu siapa?” Jawabnya dengan suaranya termerdu yang pernah kudengar. “Namaku Faris, kamu murid baru ya disini?” tanyaku. “Iya, aku berasal dari SMP Al-Azhar” jawabnya. Dunia ini pun serasa milikku, tanpa dirasa mungkin karena obrolan ku dengannya sampai-sampai aku pun lupa waktu.
Keesokan harinya aku pun segera bergegas berangkat sekolah dengan perasaan berbunga-bunga ingin bertemu dengannya. Sesampainya ku di meja, yang kulihat hanyalah tasnya. Kucari dia ke kantin, UKS, halaman belakang tetap tak kulihat sosoknya, hingga akhirnya ku naik ke lantai atas menuju ke perpustakaan. Kulihat ia dengan rambutnya yang agak sedikit ikal kemerahan menutupi sebagian pipinya yang merona. Aku pun menghampirinya, “Hai.. Rena sedang apa?” aku bertanya dengan riang.
“Oh.. ini aku sedang membaca novel favoritku judulnya “Last Love In My Life” pokoknya bagus deh.” Jawabnya sambil sedikit tersenyum. Tak terasa bel masuk tinggal 5 menit lagi, aku dan dia segera kembali ke kelas.
Semakin lama aku dengan Rena pun semakin akrab dan dekat, komunikasiku dengannya tidak hanya di sekolah tetapi juga melalui media sosial.
Sudah hampir tiga minggu sejak pertama kali kedatangannya di sekolah ini. Dia pun sudah memliki banyak teman, mungkin karena sifatnya yang ramah dan murah senyum. Memang akhir-akhir ini perhatianku terhadapnya agak berkurang karena tugas bertubi-tubi yang diberikan sekolah.
Setelah tugas-tugas sekolah telah kutuntaskan entah mengapa rasa ini ingin sekali mengobrol berdua dengannya. Kebetulan bulan ini merupakan bulan Valentine kesempatan yang dapat kumanfaatkan. Disaat bel istirahat berdering aku pun langsung mencari-cari dia, kucari di halaman sekolah, UKS, dan perpustakaan tapi masih belum juga kutemui dia sampai akhirnya aku pun menuju kantin, satu-satunya tempat yang belum kudatangi. Memang sepertinya akan sulit mencarinya disini karena banyaknya murid lain yang lalu-lalang. Setelah mencari tuk beberapa menit, ku melihat sesosok gadis cantik di kejauhan sedang duduk bersama cowok lain, kuperhatikan lebih jelas ternyata itu memang Rena dan cowok itu sepertinya sangat dekat sekali dengannya. Hatiku ini yang awalnya senang langsung berubah 180 derajat menjadi sedih dan kecewa, serta sejujurnya cemburu juga. Rasanya seperti ada gunung kratakau lain dalam hatiku ini yang ingin meletus, yang lavanya sangat membara.
Disaat bel pulang sekolah berbunyi. Aku pun segera berjalan keluar kelas dengan wajah sedih, memang sejak tadi aku tidak ingin berbicara dengan Rena dan mendiaminya. Di gerbang sekolah kulihat cowok misterius itu lagi dengan Rena sedang berjalan bersama.
Mungkin karena rasa sabar ini telah habis, aku pun tanpa pikir panjang langsung menghampiri mereka. “Rena.. siapa cowok ini? Kenapa dia selalu bersama kamu?” Dengan nada sedikit kesal. “Aku tahu memang akhir-akhir ini aku kurang perhatian sama kamu!” ujarku. “Kamu.. jangan salah sangka dulu! Dia itu kakak kelas aku dulu ketika aku masih SD, jadi aku udah kenal dia dari dulu.. Lagi pula ada apa sih?” jawab Rena dengan sedikit kesal. “Sebenarnya aku itu cemburu, maafkan aku Rena.. Aku kira dia itu pacar barumu.” Jawabku dengan agak sedih dan nada yang mellow. “Sebenarnya aku itu suka kamu, aku sayang kamu! Dari awal aku melihatmu di kelas, ada perasaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya.” “Aku pun berpikir “Mungkinkah kau ini malaikatku?”.” Ujarku dengan sepenuh hati. “Tapi Rena, maukah kau menjadi malaikatku?” tanyaku dengan keraguan yang membayangi. “Hmhm.. Sebenarnya dari awal aku melihat kamu juga aku sudah menaruh hati, hanya saja aku enggak tahu cara untuk ngungkapinnya!”. Dan kuaanggap jawabannya itu sebagai YA..
Perasaan sedih dan kesal pun menjadi perasaan senang. Sejak hari itu hampir setiap hari aku selalu pulang bersamanya, bercanda dengannya, mengobrol dengannya. Kurasa apa yang di kata orang tentang “Cinta pada Pandang Pertama” itu memang benar adanya dan aku pun merasakannya, dan satu hal lagi mungkin ternyata dia itu benar-benar malaikatku.






Cerpen Karangan: Faris Rizqhilmi
“Allahu akbar Allahu Akbar”
“Hoaammmmm, masih ngantuk nih,,”
Suara Adzan Subuh itu lagi. Suara yang biasa membangunkanku seperti pagi ini, pusing bener rasanya, ku paksa kucek-kucek mata yang masih terasa berat untuk dibuka. Mungkin ini gara-gara tadi malam telfonan sampai tengah malem.
“Sekali lagi makasih yah sayang, hadiahnya bagus banget aku suka, goodnight.”
Suara Lina masih ke inget jelas, sebelum dia nutup telfonku tadi malem. Walau sekarang jadi ngantuk gila gini, dan kaki ngilu gara-gara genjot sepeda kiloan meter nganterin hadiah ulang tahun kemarin, tapi senang rasanya karena misi melukis wajah pacarku akhirnya sukses. Semagat rasanya memulai pagi.
Siap-siap, Jalan kaki dari tempat kost ke sekolah. Memang sudah jadi ritual harian ku tiap pagi, sudah jadi hal yang biasa buat-ku, dengan hari-hari yang Nampak sama dari minggu ke minggu, kelas 2 SMA yang terasa mulai “membosankan”, tak ada hal yang luar biasa terjadi padaku. Hampir setahun gak ada lagi temen kost di tempatku, tapi beberapa bulan terakhir ini Lina lah yang agak bikin seru suasana di tempat kost ini, walaupun hanya lewat telfon atau sekedar sms an kalau malam.
Senin Pagi, terlalu pagi rasanya untuk tiba paling awal di sekolahku, SMA Negeri 2 Bakti Jaya. Memang sudah jadi kegemaranku untuk datang paling awal di sekolahku sebelum ada satu murid pun yang datang, mungkin karena datang pagi memberikan optimisme tersendiri bagi hariku. Atau karena hal lain, kadang datang pagi jadi kewajiban buatku untuk jadi yang pertama di sekolah ini, ya, jadi yang pertama: Orang pertama yang nyontek PR teman.
Bendera Merah Putih sudah terpasang di tiang bendera, ku lihat saat baru masuk gerbang sekolah. Berarti hari ini gak ada upacara bendera. “Tumben” pikirku. Masuk ke sekolah, pintu-pintu kelas masih dikunci, sepertinya ini memang kelewat pagi, alhasil ku hanya bisa nunggu petugas membuka pintu sambil duduk di depan kelas.
2 menit sekali ku tengok jam di Samsung Gt3322-ku. 7 menit nunggu, akhirnya petugas datang dan membuka pintu kelas. Dengan cepat tas ku sudah ada di bangku paling belakang pojok kelas, itu bangku ku. Tapi ada yang aneh, Seingat ku banyak hiasan kelas yang berubah di kelas ini, “apa kemarin ada acara bersih-bersih kelas? Entahlah.”
“Tang, Bintang?!!, ngapain lu? Kan kelas kita bukan disini” Heri teriak bikin ku kaget “Oo ya, memangnya lu dah sembuh? Maaf aku gak sempet jenguk sob, gue kan baru datang dari Malang, ada pertandingan bola” tambah Heri. Ku melongo, “Hah, Apa? Aneh ni orang” pikirku.
1. Dari dulu ya ini kelasku, “kelas 2 sosial satu”, ruangannya ya disini, gak pernah pindah.
2. Kapan juga ku sakit?, lagi sehat wal afiat ini.
“Ah, apaan sih Her, gila lu!!, kapan juga gue sakit? Lagian kan disini kelas kita” ucapku. Heri Diam sebentar, tatapannya langsung berubah datar. “Tang”, “Apa?!”, “ Sekarang tanggal berapa?” gak tau kenapa Heri malah Tanya tanggal, “Kemarin kan 5 Mei, si Lina ulang tahun, Sekarang Ya 6 Mei” jawabku. Heri Melotot, “Lihat di Hape-lu, Sekarang tanggal berapa?” ku lihat Hape, “2 SEPTEMBER” “Hah?!” ku melotot, mulai kapan Heri bisa sulap? “Kok bisa? Belajar sulap dimana lu?!” heran. Alis Heri nyatu, “Sulap? Hahaha, bukan tang, ini bukan sulap, memang sekarang tanggal 2 September”.
“MAKSUD-NYA?! Apa nih?” ku mulai parno. “ku denger, kemarin lu jatuh pas naik sepeda. Katanya lu sempet di bawa ke Rumah Sakit, tapi aku baru tau kalau lu Amnesia,?!” “Gue, Hilang Igatan?!” aku nunjuk diri sendiri. “Bentar-bentar, kalau gue Hilang Ingatan, Kenapa keluargaku gak tau? Kenapa ku terbangun di tempat kost, bukan di rumah sakit?” Heri Diam Menggelengkan kepala. ku lihat kalender, tapi bener ini bulan september. Suasana Hening, aku Bingung.
Tiba-tiba Hape ku getar, Kakak-ku nelfon. “Halo dek” “Kak Kenapa? Kenapa? Kenapa?” 10 menit berlalu. Setelah pembicaraan yang panjang dengan kakak di telfon, aku yakin bahwa apa yang dikatakan Heri mungkin ada benarnya. Kakak-ku barusan bilang “Kamu gak papa kan dek?!, kata dokter kamu gak papa, jadi kakak langsung bawa kamu ke tempat kost-mu” lalu hape-ku mati, kehabisan batrerai.
Aku mikir, setengah sadar, dalam hati ku bilang “aku sedang Amnesia, dan kehilangan ingatan dari tanggal 6 mei hingga 1 september kemarin. Lalu?”, “tang?!, woy!!” suara Heri membuyarkan lamunanku. “Hah, iya her, hehe, kena tipu luu!!! Hooo, Enggak kok, Gue sudah sehat sekarang, gak amnesia. Ayo ke kelas.” Jawabku pada Heri. Ku sengaja bohong sama Heri, Selama ingatanku belum kembali aku akan menyembunyikan kenyataan bahwa aku sedang hilang ingatan. Ya, itu rencanaku.
Heri jalan dan aku ngikut saja ke kelas, anehnya dia malah masuk ke kelas dengan papan nama “kelas 3 sosial satu”, padahal kan harusnya “kelas 2 sosial satu”. Aku hanya diam dan mengikuti. Baru sadar, sekarang bulan September, berarti ujian kenaikan kelas sudah lewat, mulai mikir, mungkin ada untungnya hliang ingatan “Serasa tak perlu ikut ujian kenaikan kelas!!” untungnya aku.
Jam Pelajaran di sekolah, entah kenapa di kelas 3 ini aku bisa duduk di bangku paling depan pojok kelas?. ku mulai mikir, apa saja yang terjadi selama 3 bulan lebih memoriku hilang. Eureka!!, aku teringat pada sebuah Buku, semacam Dayre di tempat kost ku. Biasanya jika ada “kejadian penting dan berkesan” aku mencatatnya dalam buku itu. Satu-satunya yang ku pikirkan selama jam sekolah hari ini hanyalah buku itu, aku pura-pura tidur sehingga tak perlu bicara dengan teman-teman kelas ini yang banyak tak ku kenal. Aku duduk sebangku dengan heri, tapi tak mungkin bertanya tentang ingatan kehidupanku yang “hilang” padanya. Sekalipun ada hal yang begitu ingin ku tahu: Apa Lina tetap jadi Pacarku hingga sekarang?.
Hanya namanya Amnesia, hilang ingatan, tapi bagiku ini seperti “Melompat ke masa depan”. Tadi pagi ku terbangun, dan tau tau sudah 3 bulan lebih dari waktu ku ingat aku tidur tadi malam. Sepertinya aku tak lagi butuh “Mesin Waktu Doraemon” untuk melintas waktu. Khayalan masa kecil ku untuk pergi ke masa depan sekarang terwujud. Dan, sekarang aku bingung karena tak dapat kembali ke masa lalu.
Bel Pulang Sekolah Berbunyi, ku percepat langkahku untuk menuju tempat kost. Mencari-cari buku catatanku, yang sekarang malah menjadi buku catatan ramalan nasib ku, karena aku sendiri tak tahu apa yang tertulis di buku itu. “Di mana yah? Sampul Hijau agak kecil” gumamku dalam hati. “Eureka!! Ini dia.” Tepat di bawah laci meja di tempat kost ku. Ku buka buku itu.
Selasa, 7 mei
“Aku Putus!!”, lina memutuskanku lewat SMS. Katanya dia ingin fokus pada pelajaran karena hampir kelas 3. Awalnya ku bisa terima alasannya, tapi Sisil teman Lina yang kasihan padaku bilang bahwa sebenarnya Lina selingkuh dengan cowok lain. Lina hanya ingin dilukiskan wajahnya. 2 hari setelah ulang tahun lina, “kita putus”. Rasa kecewa ini, “semoga aku bisa memaafkanmu lina” untuk terakhir kali ingin ku bilang “aku sayang kamu”.
Hening, tak ada yang bisa ku katakan. Sepertinya baru kemarin ku hampir kecelakaan saat mengantarkan lukisan dengan menggunakan sepeda pedal saking tak sabarnya, hingga nyaris di tabrak mobil. Ku usap pipiku yang kini basah, ketika setelah berbulan-bulan pacaran, secara tiba-tiba aku tahu: aku jomblo.
Setelah mencoba untuk move on secara kilat, aku mencoba tegar. Sekarang aku tahu buku ini bukan hanya buku ramalan, tapi juga buku kenyataan pasti yang harus ku terima baik buruknya. Ku coba beranikan diri, membalik lagi lembaran kertas buku itu.
Rabu, 10 mei
Masih mencoba mengikhlaskan Lina. Suasana tempat kost sekarang sepi. Satu persatu teman mundur sebagai tempat curhat. Tapi ada juga yang bertahan sih, salah satunya Meri, teman SMP ku yang memang sahabat sekaligus “Tempat Curhatku.”
Sabtu, 29 juni
Entah kenapa ada perasaan tak enak saat Meri mencurhatkan tentang cowoknya. Yang ku tahu, aku terbiasa sama Meri. Walau hanya sekedar teks SMS.
Selasa, 3 juli
Sekarang Meri jomblo. Satu Lagu Tercipta “Pengagum rahasia”. Ku sadar, aku suka Meri. Tapi entah kenapa aku tak tahu? Dan biarlah rasa ini terpendam. Aku takut, Semakin aku sayang Meri, semakin singkat waktu yang ku punya. Aku takut harus melupakannya andai saja ku jujur bilang suka, dan kelak kita harus jauh-jauhan karena tempat kuliah yang beda. GALAU.
Sabtu, 20 juli
Akhirnya “Aku ketahuan” Meri. Berawal dari update status di facebook, aku di paksa ngaku, dan akhirnya ku bilang “Aku Sayang Kamu Meri” WOW!!. Dan gilanya, Meri tak marah ketika tau aku sayang dia. HORE!!! Kadang jadi senyum-senyum sendiri, tak khawatir akan masalah tempat kuliah lagi, jalani aja dulu. Alhamdulillah.
Ku letakkan buku itu di atas meja. Jantung berdegup kencang rasanya ketika tau sekarang aku HTS-an dengan Meri. Semua seperti terjadi begitu cepat. Belum pernah ku menulis catatan dengan kata-kata bahagia seperti itu, mungkin memang aku sangat sayang ke Meri. Aku Charge hape-ku. Ku baca satu per satu isi SMS dengan Meri. Akhirnya ku tahu, ber minggu-minggu sudah aku SMS-an dengan Meri. Tiap kata dalam kumpulan pesan singkat itu menegaskan betapa dekat kami, betapa aku sayang Meri. Ternyata telah banyak ingatan penting telah hilang dalam otakku, termasuk ingatan aku sayang Meri.
Semua ini terjadi terlalu cepat, beberapa jam yang lalu hatiku ada di tanggal 6 mei, aku sayang Lina. Sekarang, hatiku berpindah tempat di tanggal 2 september, aku mulai sadar aku memang terbiasa pada Meri. “Tapi, apakah aku sayang Meri?” Pertanyaan-pertanyaan sederhanapun ku tanyakan pada dinding kamar kost malam itu, pada lampu, terlebih pada diriku sendiri.
“Kenapa gue gak inget apa-apa?!! huaaaa!!!”
“tuuuuut-tuuuuut” Suara nada tunggu yang ku dengarkan baik-baik. Nomor di layar Hape ku menunjukan urutan nomer Meri. Aku nekat nelfon Meri, aku ingin jujur tentang apa yang sedang ku alami sekarang.
“Ha.. Haloo”, “Halo, apa ay?” jawab Meri Santai. “Ay? Oh iya, ay aku pengen jujur, sebenernya hari ini aku Amnesia”. “HAH??!!” jawab Meri terperangah. Aku pun Ngobrol panjang lebar, menceritakan apa yang terjadi. Awalnya ku pikir ini akan jadi buruk, tapi setelah puluhan menit gobrol dengan Meri aku tahu alasan aku sayang dia.
“Lucu ay, ya udah gak papa. Aku gak maksa kamu inget perasaanmu ke aku kok. Tapi aku yakin, jika kenanganmu bisa hilang, maka kita pasti bisa menulis kenangan itu lagi, Bersama.” Kata-kata sederhana memang. Tapi itu membuktikan betapa tulus hatinya. Dan betapa Meri sayang aku apa adanya. Sekarang Semua ke Khawatiranku tentang ingatanku pun hilang. Aku bahagia bersama Meri sekarang. Dan dengan penuh keyakinan ku tutup telfonku malam itu dengan barisan kata: Aku sayang kamu Meri.
“Allahu akbar Allahu Akbar”
“Hoaammm, masih ngantuk nih,,”
Suara Adzan Subuh itu lagi. Suara yang biasa membangunkanku seperti pagi ini, pusing bener rasanya, ku paksa kucek-kucek mata yang masih terasa berat untuk di buka. Hari yang baru, suasana luar biasa karena kejadian kemarin. Siap-siap, Jalan kaki dari tempat kost ke sekolah. Hal yang aku lakukan tiap hari. Tapi kini begitu ku nikmati karena aku tau ada orang yang sayang aku apa adanya: Meri.
Ingin ku tulis perasaanku pada buku catatanku. Tapi entah kenapa bukunya tak ada di atas meja, bukunya kembali ada di laci di bawah meja. Ku buka buku itu, aku diam.
Hening. Semua catatan yang ku baca kemarin hilang, “HILANG?!!”
Ku bolak-balik satu persatu kertas di buku itu, Aku bingung.
Ku lihat Samsung Gt3322-ku, hari ini bertanggalkan Senin, 6 Mei.
Senin Pagi, Aku tak percaya bahwa semua itu hanya mimpi. “Semua sedih dan bahagia itu, apa juga mimpi? Akan ku cari tahu” Janjiku dalam hati.
Selasa, 7 mei. Aku tuliskan lagi kejadian dalam buku catatan yang pernah ku baca dalam mimpi itu. Namun dengan kata-kata yang berbeda.
Selasa, 7 mei
“Aku Putus!!”, lina memutuskanku lewat SMS. Katanya dia ingin fokus pada pelajaran karena hampir kelas 3. Tapi aku sudah tau kejadian ini, Aku tau itu bohong. Aku tak menyesal jika Lina hanya ingin di lukiskan wajahnya. Sekarang Aku memaafkannya. Lagipula aku punya orang yang ku sayang sekarang, aku tau siapa TRUE LOVE-ku. Dan jika Di Tanya siapa orangnya? “Meri, Kamu Aja Deh”.



Cerpen Karangan: Badri Lokajaya
Pada suatu tanggal, tepatnya tanggal 40 Februari 2011 cot 45, terdapat sebuah hutan yang sangat lebat, bahkan lebih lebat dari hujan lebat. Tidak ada seorang pun yang berani masuk di hutan itu. Bahkan orang-orang tak berani menceritakan tentang hutan itu. Bahkan (lagi), saya juga gak berani menceritakan hutan itu. Maka dari itu, kita beralih 1 meter ke utara dari hutan tersebut. Di sana, terdapat sebuah kota yang sedang mengalami kemajuan ke belakang. Kota itu diberi nama Kota Untuk Slamanya. Cie…
Di Kota itu, terdapat salah satu sekolah yang sudah berdiri dari dahulu. Nama sekolah itu adalah SMA Satu Harapan biasanya disingkat SMASH. Sekolah itu berdiri sejak 5000 tahun sebelum tahun 7010. Slogan di sekolah tersebut adalah “Cintaku Cenat Cenut, Prestasiku Takkan Surut”. Sekolah itu sudah menjadi icon tersendiri bagi Kota Untuk Slamanya, bahkan icon itu melebihi 7 icons. Hah? Sekolah itu didirikan oleh seorang Antariksawan yang pernah pergi ke planet Bumi dan akhir-akhir ini ia dikabarkan akan mengunjungi Planet Hatimu. Cie… Antariksawan tersebut bernama Pak Bagus S.G (Sarjana Gombal), nama panjangnya bukanlah Kapur Bagus, Toko Bagus, maupun Bagus Setiawan. Tetapi namanya adalah Bagus Berkualitas, disingkat BB.
Pria berkelahiran tahun 1830 itu dulunya hanya sedang iseng bermain susun batu dengan teman-temannya. Tapi secara tidak sadar batu itu menjadi sebuah bangungan berlantai 10, sudah termasuk perabotan, kamar mandi, atap dan dapur dan perkakasnya. Pak Bagus kaget setengah hidup melihat bangunan megah itu. Karena di kampungnya dulu belum ada rumah, bangunan itu dijadikan sebagai hunian sementara 18 kampung. Akan tetapi karena adanya seleksi alam dan teori revolusi, bangunan tersebut dijadikan sekolah oleh Pak Bagus. Kebetulan siswa yang mendaftar hanya sedikit, sebanding dengan jumlah gurunya yang hanya berjumlah 2 orang. Jumlah siswa yang mendaftar hanya sekitar 4 sampai 5 ribu orang, belum termasuk orangtua yang mendampingi. Yah, karena bangunan sekolah hanya muat untuk 300, 2 makhluk, terpaksa harus diadakan seleksi besar-besaran. Siapa yang jumlah huruf dalam namanya berjumlah ganjil atau prima langsung didiskualifikasi. Juga, yang mempunyai nama dengan huruf kurang dari 10 huruf juga langsung didiskualifikasi. Setelah 10 menit seleksi tersebut dilakukan, kini sekolah telah mendapat 300 siswa tetap.
Di sekolah itu ada sebuah murid yang terkenal gahol. Namanya adalah Seiza Emanuel Tristant Alexis Nockquart (disingkat SETAN). Ia adalah ketua geng “Tri Rejeki” bersama dua temannya, Zubi (A’uzubillahi Minasyaiton) dan Fay (Kamseu Fay). Status Seiza memang masih pelajar. Namun, ia sudah memiliki pekerjaan sampingan, yaitu menjadi Mahasiswa. Lhoh? Ia menjadi Mahasiswa di STTS (Sekolah Tinggi Tinggi Sekali) jurusan pergombalan. Di usianya yang 17 tahun, ia sudah menjadi mahasiswa selama 18 tahun. Hah? Bapaknya adalah seorang penjual obat panu. Namun ia langsung berhenti karena diprotes pelanggan. Obat itu memang dapat menyembuhkan panu, tapi efek samping dari obatnya adalah pusing, ngantuk, mata kunang-kunang, mata kupu-kupu, pilek, muntah darah, diare, kanker, amnesia, gagal ginjal, stroke, gangguan kehamilan dan janin, dan juga kematian.
Lanjut!! Hari-hari telah berlalu. Mentari dengan setia menyinari bumi seperti kesetiaanku mencintaimu. Cie…
Pagi itu, Seiza bangun pagi seperti hari-hari yang lalu-lalu. Alarm di HPnya berbunyi pukul 02.00 namun ia baru bisa menjalani aktivitas secara normal pada pukul 06.00 (maksudnya pukul 06.00 di hari selanjutnya) karena waktunya digunakan untuk mematikan 4356 HPnya yang berbunyi. Orang kaya…
Setelah selesai mematikan alarm di 4356 HPnya, ia langsung menjalankan hobinya. Hobinya adalah memikirkan apa hobinya yang sebenarnya. Ia mengecek HPnya dan ternyata ada SMS!!! Biasanya kan banyak SMS mama minta pulsa, tapi kali ini beda. Isi SMSnya adalah mama ngasih pulsa. Gini tulisannya, “Nak, Mama lagi di kantor polisi. Pulsa mama habis. Jadi gak bisa sms kamu. Rencananya mama mau beli pulsa. Kamu mau titip gak. Nanti pulsanya mama kirim ya?” dan beberapa menit kemudian ada kiriman pulsa 100 ribu. Lumayan lah.
Hari itu adalah tanggal 14 Februari 2012, kalian tahu hari apa? ya!!! Betul!! Hari Selasa. Hari itu adalah hari Selasa. Namun hari itu bukan sekedar hari Selasa biasa, kalian tahu? Ya!!! Benul (benar + betul) !!! hari itu adalah hari Selasa Pon. Lhoh? Hari itu adalah Valentino Day. Oh salah, yang bener Valentine Day. Seiza berniat membuka usia remajanya dengan menembak seorang wanita yang ia idam-idamkan. Dari 2.456.234 wanita yang diidamkan, ia telah membidik 1 wanita yang menurutnya sempurna. Wanita itu bernama Tomerina Caterine, biasanya disingkat TomCat. Seiza langsung menelfonnya dan mengajak ia janjian dengan janji-janji yang menjanjikan di suatu tempat. Rencananya ia akan mengajak Tomcat pergi ke tempat yang ramai dengan tujuan proses penembakannya bisa disaksikan langsung oleh banyak orang.
Beberapa jam kemudian (lebih tepatnya 0,0167 jam kemudian), kedua belah pihak sampai di tempat tujuan. Seiza bersiap-siap untuk melakukan aksinya. Jantung berdetak kencang, hati cenat-cenut, lidah ngilu, asam urat kambuh, halah. Dengan penuh deg-degan ia membaca sebuah puisi. Kira-kira seperti ini:
Gombal gambul gombal gembel
Gembal gembul gembal gembul
Gombal ini bukan sekedari gombal
Gombalku ini adalah gombal dari segala gombal
Aku tak peduli bapak kamu petani
Aku tak peduli bapak kamu pilot
Aku tak peduli bapak kamu maling
Karena apapun pekerjaan bapakmu
Cintaku Hanya untukmu
Dan bukan untuk bapakmu
Tahukah kamu siapa pencipta sepakbola?
Tahukah kamu siapa ayah Albert Einstein?
Tahukah kamu dimana alamat yang sebenarnya dicari Ayu Ting Ting?
Aku tak terlalu ingin kau tahu itu
Tapi aku hanya ingin kau tahu
Bahwa aku sayang padamu
Mendengar itu, Tomcat menjadi klepek-klepek. Seiza segera menggunakan momen itu untuk segera menembak Tomcat. “Ehm, Cat… kamu mau gak jadi TKW di Arab Saudi?” tanya Seiza. “Enak aja, gak lah!!”. “Hmmm… kalau jadi TKW di Malaysia?” Seiza tanya lagi. “ENGGAK!!! AKU GAK MAU JADI TKW!!!” “Wohohoh… slow aja mbak. Kamu gak mau jadi TKW, its okay. Tapi kamu mau kan jadi pacar aku?”. Tomcat tiba-tiba shock… ia mengalami pelelehan (melting maksudnya). Dan seperti yang kita duga, jawabannya adalah “YES!”. Orang-orang sekitar yang tadinya diam kini bersorak-sorak. Mereka berteriak dengan begitu semangatnya. Mayoritas yang berteriak memakai kaos Orange. Oh iya, saya lupa ngomong. Tempat untuk menembak Tomcat adalah di Stadion Ollimpiyskiy, tepatnya di tengah lapangan. Kala itu sedang ada partai final EURO antara Italia dan Spanyol. Dan Spanyol menjadi pemenangnya dengan skor 4-0. Keempat gol tersebut dihasilkan karena tendangan dari kiper Spanyol membentur Seiza dan mengecoh Buffon. Dan akhirnya mereka juara. Pantesan pada teriak-teriak. Seiza kemudian ikut merayakan kemenangan Spanyol itu. Karena terus meleleh, Tomcat akhirnya pingsan. Tapi Seiza masih ikut merayakan kemenangan spanyol dan sempat foto bareng bersama supporter Spanyol, bukan pemainnya lho.
Seiza segera memanggil Ambulan dengan kentongan. Tomcat langsung dibawa ke Rumah Sakit setempat, namanya Rumah Sakit Tak Ingin Tersakiti. Ia dimasukkan ke ruang UGD (Uninstalasi Gawat Darurat). Seiza pun panic (harusnya tulisannya “panik” tapi karena ada auto correct jadi “panic”). Badannya gemetaran. Bahkan rumah sakitnya pun ikut bergetar dan pengunjung sempat panik sesaat. Ia menelfon orangtua Tomcat. Selang beberapa detik kemudian, orangtuanya datang. Suasana pun semakin tegang karena Tomcat belum keluar-keluar juga.
Seiza sempat menggombali ibunya Tomcat tapi karena ada suaminya, Seiza memilih menggombali bapaknya saja. 3 tahun pun telah berlalu. Dokter keluar dan mengizinkan Seiza dan orangtuanya Tomcat untuk masuk. Di sana terbaring Tomcat. Seiza mendekat. Tomcat bilang, “Seiz, kamu bener cinta sama aku?” Seiza menjawab dengan muka unyu, “Iya, Cat, aku mencintaimu dengan sepenuh sepertiga hatiku.” Tomcat bingung “Maksud kamu?” “aku kan sudah punya 2 cewek, karena aku adil, jadi hatiku kubagi sama rata, sepertiga sepertiga.” Tomcat kaget. “APHAA!!!” orangtuanya juga kaget “APHAA!!!” dokternya juga kaget “APHA!!!” pengujung rumah sakit pun juga kaget “APHHA!!!” Bahkan lalu lintas di luar sempat berhenti sejenak karena pengendaranya juga kaget “APHHAA!!!” saya juga ikut kaget “APHA!!!” pembaca mau ikut kaget nggak? Hayooo… Tomcat serasa tercabik cabik, tersayat-sayat dan terpukul-pukul serasa terkena racun tomcat. “Kamu jahad (pakai qolqolah)!! Kamu busuk! Kamu Banci!! Kamu keji!!!” “Tapi setidaknya aku ganteng kan? Hehe”. “EH!!! POKOKNYA HARI INI LO! GUE! PREND!” Seiza kaget “loh, kok prend? Harusnya kan end?” “Oh iya, ralat, LO!! GUE!! END!!!” Tomcat pun langsung pergi entah kemana. Ibunya berkata pada Seiza “Kalau boleh kecewa, saya jujur sama kamu.” Bapaknya juga ngomong “Salah bu! Yang bener, kalau boleh jujur, saya kecewa sama kamu” “oh ya maaf. Hehe” mereka pun langsung pergi. Seiza sangat sedih karena disuruh mbayar biaya Rumah Sakit. Biayanya Cuma sekitar 50.000 sampai 100.000 pundsterling. Itu baru biaya tempat tidur saja dan belum termasuk fasilitas tambahan seperti Televisi, Kursi, AC, Kipas angin, Kamar mandi, Studio Musik, Lemari Es, Mobil mewah, dan juga kolam renang.
Seiza sejenak merenungi apa yang terjadi, dan akhirnya tidur. Esok harinya Seiza berencana menemui Tomcat di suatu tempat. Kali ini ia mengajak janjian di tempat sepi. Saya juga gak tahu kenapa Tomcat mau saja. Mereka pergi ke kuburan. Karena terlalu sepi, mereka pindah ke puncak. Weisyeh… Seiza pun memulai percakapan, “Cat, aku mau ngomong. Aku sudah mutusin 2 cewek aku yang lain. Sebenarnya mereka sih yang mutusin aku. Sekarang kamu mau gak maafin aku?” “Enggak!!” jawab Tomcat. “Tapi Cat, menurut buku Tatang Sutarma…” Tomcat langsung menyela “HEH! Itu bukunya Sule!” “Aku pinjem dulu, nanti aku balikin. Menurut buku Tatang Sutarma kita harus memaafkan jika seseorang minta maaf dengan ikhlas.” “Aku dah gak percaya lagi sama kata-katamu yang penuh dusta itu. Aku perlu bukti”.
Seiza pun langsung mengajak Tomcat ke Toko Perhiasan yang letaknya tidak terlalu jauh dari posisi mereka sekarang, kira-kira setengah meter lah. Seiza langsung membeli perhiasan yang paling mahal yaitu 2 MM (Milyar Milyar) rupiah. Namun ia berhasil menawar menjadi 2000 rupiah karena ia ikut gerakan X Juta Nawar. Perhiasan itu langsung ia tunjukan kepada Tomcat, dan langsung membuangnya jauh-jauh. “Cat, itu bukti bahwa aku tak terlalu memikirkan tentang uang, tapi aku lebih memikirkan hubungan kita. Sekarang aku mohon. Maafin Marwan ya…” tiba-tiba ada seorang laki-laki berambut agak panjang dan berkata, “Eh, itu nama gue.” “oh ya maaf mas.” Ia langsung melanjutkan, “Cat!! Kamu mau gak maafin aku?” Tomcat pun agak bingung karena di lubuk hatinya ia masih cinta dengan Seiza. Tiba tiba Ahmad Dhani datang dan berkata, “Kalau aku, Yes!” lalu Anang Hermansyah juga datang, “Aku juga, Yes!” Tomcat pun langsung menegapkan badannya dan berkata, “OK. Mas Dhani yes. Mas Anang yes. Aku juga yes. Selamat kamu mendapat tiket emas ke hatiku.” Seiza pun menjadi berbunga-bunga. Bunganya langsung dijual oleh Mas Dhani dan sebagian diambil Mas Anang untuk diberikan kepada Ashanti. Sesuatu. Eh itu Syahrini ya. Maaf salah. Seiza langsung menggandeng Tomcat dan duduk bersama untuk memandangi Bulan yang indah. Mereka lalu pulang ke rumah masing-masing dan langsung menyalakan laptop dan mengubah status di facebooknya dari lajang menjadi jalang. Eh salah, dari lajang menjadi berpacaran. Mereka pun Langsung tidur dan siap menyambut hari yang cerah untuk masa depan yang cerah. Selesai
Dari cerita di atas (jangan nengok ke atas ya!), kita bisa mengambil pesan moralnya tanpa harus saya pandu. Cinta itu bukan sekedar gombal atau kata-kata rayuan yang hanya mempengaruhi pikiran dan apapun yang terkandung di dalamnya. Namun cinta itu sebuah perbuatan atau pengorbanan yang kita lakukan kepada orang yang kita cintai dimana orang yang kita cintai itu menjadi cinta kepada kita sehingga orang yang bersangkutan menjadi tersentuh hatinya. Halah.
Satu kata dari saya: Cintailah orang-orang yang benar-benar mencintai anda. Cintailah orang-orang yang berjasa dalam hidup anda. Dan cintailah orang-orang yang membenci anda. Karena sebenarnya, jika kita mencintai semua orang, maka semua orang akan mencintai kita. Dan jangan sekali-kali anda membenci orang yang membenci anda, karena orang yang membenci anda adalah orang yang ingin mendapatkan cinta anda. Loh? Ini bukan satu kata ya. Hehe. Maaf.
Masak air biar mateng
Iwak peyek nasional
Walaupun saya tidak ganteng
Yang penting saya tidak terkenal
Ya udah. Terimakasih. Semoga habis ini tidak pingsan kelelahan karena membaca ini. Amin se amin aminnya.


Cerpen Karangan: Listya Adinugroho
Ini kisah cinta ldr-ku yang ke-7, setelah 6 kali gagal dalam mencintai seseorang yang jauh.. Sebenarnya bukan aku yang tak sanggup, tapi karena cowoknya aja yang belum pernah ngerasakan gimana LDR itu. Sekarang aku memiliki pria yang jauh dari pandangan mataku, tapi aku sangat sayang sama dia, namanya Arry Prasetyo! Berawal dari dunia maya kami berkenalan, dan berpacaran pun langsung LDR tanpa pernah ketemu sama sekali, kami pdktnya lumayan lama. Ya jadiannya bulan oktober tanggal 10 2012, makan hati waktu pertama pacaran, tapi aku cuma bisa sabar, aku yakin kesabaran itu akan berbuah manis..
Dan apa yang aku harapkan ternyata belum sesuai, aku berfikir jika aku pulang menemuinya dan dia masih cuek dan tak perduli aku akan mundur! Setelah aku pulang dan malam itu malam pertama kalinya jumpa secara langsung dia berubah sangat drastis, aku tak tau karena apa. Dia berubah menjadi sosok pria yang sangat sangat perhatian, selalu ingin bertemu denganku, selalu ingin sama-sama, dan tak ingin pisah! Tapi apa daya? Aku harus kembali lagi untuk sekolah. Dan ketika aku kembali ke tempat dimana aku berada sekarang, dia mulai kembali ke sifat awalnya, cuek. Dan aku pun bersifat cuek karena dia begitu, dia pria yang tidak romantis, tapi pernah dia peluk, cium kening, terus bilang i love you setiap aku habis jalan sama dia, aku bahagia dia bisa seperti itu, dia memelukku sangat erat, seakan tak ingin lepas. Mungkin karena menahan rindu yang berbulan-bulan itu.
Dan kini dia sangat sibuk dengan kerja dan kuliahnya, aku hanya ingin menjadi wanita yang mendampinginya hingga sukses, menjadi wanita yang selalu memberikan semangat untuk dia dan pekerjaannya, dia pernah menangis waktu menelfonku, sebenarnya waktu itu aku juga menangis, kami sama-sama menangis di telpon, dia cuma berharap aku tetap sabar mengerti kesibukannya, tak lelah memberikan dia semangat.
Sudah 1 tahun lebih kami menjalani hubungan LDR ini tanpa pernah ada kata putus, semoga LDR ini tak sia-sia. Aku ingin tunjukkan bahwa cinta yang sesungguhnya bukan cinta yang selalu dekat dari pandangan mata, tapi karena hati kedua yang mencintai benar-benar sanggup bertahan bagaimanapun keadannya! Jauh dekat bukan alasan untuk tidak mencintai tapi kesederhanaan hati menerima keadaan untuk sanggup mencintai ~ “I LOVE YOU SO MUCH ARRY PRASETYO”


Cerpen Karangan: Arbayusanti Putry
Pertemuan dengan seorang cowok di ruangan exkul itu memberikan kesan yang sangat mendalam di hati vivi. Seorang gadis berusia 15 tahun, entah mengapa ada getaran yang begitu hebat dan belum pernah ia rasakan sebelumnya. Vivi selalu teringat senyuman manis saat pertama kali ia bertemu dengan kak Rio.
“Hmmzz… kalian percaya gak cinta pertama pada pandangan pertama itu beneran ada?”
Tanya vivi di sela-sela waktu exkul.
“Cie–cieeee jatuh cinta sama siapa nih?” ledek Mira dan Selly
Vivi hanya tersipu malu mendegar ucapan teman-temannya itu.
Bel pulang sekolah berbunyi..
Seluruh siswa Tunas Bangsa berhamburan keluar kelas untuk pulang. Suara knalpot motor dan suara angkutan umum membuat suasana di siang hari itu semakin bising saja.
“Vi.. tunggu!! ”
Ketika di tengok ternyata itu adalah kak Dava cowok yang terkenal pintar di kelasnya dan pernah meraih juara lomba sains se-Bandung untuk 2 tahun berturut-turut.
“ada apa kak?” Tanya vivi heran
“kamu punya buku sains tentang alam semesta? boleh gak kakak pinjem?”
“oh ada kok kak kalau mau pinjem besok bukunya vivi bawa entar kak Dava ambil aja di kelas vivi ”
Keesokkan harinya di sekolah ketika vivi sedang berjalan sendirian di lorong sekolah kak Dava datang menghampiri.
“Vi mana buku sainsnya? gak lupa dibawa kan?” Tanya kak Dava
“bawa dong memangnya vi udah pikun. Eiiitttzzz tapi inget dibalikin lho, hehe ”
“iya entar di balikin kok vi tapi tahun depan… hahaha!” jawab Dava sambil berlari meninggalkan vivi yang terlihat sedikit kesal dengan sikap kakak kelasnya yang satu ini.
“Senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu… Hore.. hore.. besok hari sabtu…!” teriak vivi sambil berjingkrak-jingkrak kegirangan.
“Hmmzz.. udah gak sabar pengen cepet-cepet besok aja terus exkul deh..
andai saja setiap hari itu hari sabtu aku bisa exkul dan lihat kak Rio terus. Walaupun dia jutek tapi kalau lagi senyum manis buanget.. hehe!” bisik vivi dalam hati
Saat exkul vivi sengaja mencuri pandangan ke belakang untuk melihat kak Rio sang pujaan hati yang memang saat exkul sering duduk di bangku paling belakang. Setelah jam exkul berakhir Kak Dava mengembalikan buku yang di pinjamnya dari vivi.
“Vi.. ini bukunya makasih ya..” ucap kak Dava sambil menyerahkan buku pada vivi dan kemudian berlalu meninggalkannya.
“buku apaan vi?” Tanya mira
“ini buku sains vivi yang di pinjem sama kak Dava”
“coba lihat..!”
Tiba-tiba selly menunjuk pada tulisan pensil paling belakang buku itu.
“apaan nih? Coba lihat deh vi!” ucap selly
“hahaha.. puisi cinta dari kak Dava buat kamu vi” mira dan selly tertawa serempak.
“kak Dava kayanya suka sama kamu deh vi sampe bikini puisi cinta segala” ucap mira
“gak mungkin masa cowok jenius kaya kak Dava suka sama aku”
Ketika vivi sedang berjalan sendirian datang kamal memberikan sepucuk surat.
“vi ada titipan surat buat kamu!”
“dari siapa mal?” Tanya vivi heran
“baca aja entar juga kamu tahu kok” jawab kamal sambil pergi meninggalkan vivi
“Kak Dava? Apa? kak Dava suka sama vivi kok bisa sih? Hmmz padahal vi sukanya sama kak rio bukan kak dava tapi cowok yang vivi suka malah cuek”
“Kamal titip surat ini ya buat kak Dava sampaikan maaf vi buat kak Dava” ucap vivi sambil menyerahkan sepucuk kertas.
Semenjak vivi menolak kak dava, sikap kak dava berubah drastis menjadi dingin pada vivi. Anehnya entah dari siapa kabar penolakkan vivi kepada kak dava diketahui oleh teman-teman sekelasnya, dan sontak saja hal itu menjadi bahan ledekan.
“vi bener ya kak dava nembak kamu?” Tanya rio yang tiba-tiba menghampiri vivi yang sedang duduk sendirian di depan kelas.
“kok kak rio bisa tahu sih? Iya bener tapi kak rio jangan bilang siapa-siapa ya kasian kak davanya!” jawab vivi
“hehehe.. berarti bener dong berita yang beredar. Kenapa di tolak kan kak dava pintar juara lomba sains se-bandung”
“ihhh… pengen tahu aja rahasia dong!” jawab vivi
Jam dinding menunjukkan pukul 10 malam namun vivi masih saja belum bisa tidur.
“Huuuhhh kenapa sih kak rio gak pernah sadar aku itu sukanya sama kak rio bukan kak dava” gumam vivi
Tiba-tiba hp vivi berbunyi dan alangkah senangnya ketika vivi tahu kalau yang meng smsnya adalah kak rio sang pujaan hati. Semenjak itu vivi dan kak rio sering sms-an, walaupun Cuma sebatas teman tapi itu sudah membuat hati vivi berbunga-bunga. Hingga tiba-tiba kak rio menghilang dan tak pernah memberi kabar lagi pada vivi, sms vivi pun gak pernah dibalas lagi.
Langit tampak begitu cerah, matahari yang panas memanggang semesta alam yang telah lelah dengan hiru pikuk kehidupan. Namun hati vivi tak secerah hari ini. Seusai pulang sekolah vivi hanya menangis di kamar, hatinya terasa hancur berkeping-keping dan kini sayap-sayap cintanya telah patah hancur lebur bersama mimpinya. Kak rio sang pujaan hati kini telah menjadi milik orang lain dan kak rio lebih memilih kak ratna teman 1 exkulnya.
“Pantesan kak rio pindah ke exkul basket dan gak pernah balas sms aku lagi teryata udah jadian sama kak ratna” ucap vivi dengan berlinang air mata.
Harapan untuk mendapatkan kak rio kini pupus sudah. Namun akhirnya ratna menyadari tak baik menangisi keadaan, walaupun ia menangis seharian toh gak bisa membuat kak rio menjadi miliknya.
“mungkin ini sudah jalan yang terbaik vivi yakin segala sesuatu pasti akan indah pada waktunya”
Berbulan-bulan berlalu akhirnya vivi menerima cinta Kevin teman sekelasnya dulu di kelas 10, vivi berpikir Kevin cowok yang baik dan mungkin dengan menerima cinta Kevin dapat menghapus rasa cintanya pada kak rio.
Satu tahun kemudiannnn
Ketika vivi sedang asyik mendengarkan musik di hp ada pesan masuk dan ketika di buka vivi sangat terkejut setelah sekian lama kak rio meng smsnya lagi.
“vi sebenarnya dulu kak rio suka sama vivi” ucap kak rio di salah 1 pesan singkatnya.
Mendengar pengakuan kak rio, akhirnya vivi juga jujur tentang perasaannya dulu kalau dia suka sama kak rio tapi kak rio selalu cuek sama vivi. Kak rio bilang dulu dia terlalu takut di tolak karena kak dava cowok sepintar itu pun ditolak, apalagi dengar dari selly katanya vivi gak akan pacaran dulu sebelum lulus SMA.
“vi sebenarnya sampai sekarang kak rio masih sayang sama vivi, kak rio sedih banget pas tahu vi sekarang udah punya pacar. Dulu kak rio terlanjur putus asa vivi seperti gak pernah ngasih harapan buat kakak” ucap kak rio lewat telepon seluler.
“vi juga sampai sekarang masih sayang sama kakak vivi kira dengan menerima cintanya Kevin dapat menghapus rasa cinta aku buat kakak tapi ternyata salah vi gak bisa hilangin rasa sayang vivi sama kakak” jawab vivi
Perasaan senang bercampur sedih bergejolak di hati keduanya. Telah mengetahui bahwa teryata selama ini cinta mereka tak bertepuk sebelah tangan. Namun kini nasi telah menjadi bubur, mereka kini telah sama-sama menjadi milik orang lain dan tak mungkin cinta dapat terwujud di antara keduanya.
“vi walaupun kita masing-masing sudah punya pacar tapi kak rio berharap keajaiban itu akan datang buat kita dan membuat kita bisa bersama” ucap kak dava
Berbulan-bulan berlalu akhirnya vivi memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Kevin karena vivi sudah tak nyaman lagi dengan sikap Kevin yang terlalu kekanak-kanakkan. Putusnya vivi dengan Kevin lambat laun diketahui juga oleh kak rio
“vi tunggu kak rio ya buat jadi pacar vivi. Kak rio gak bisa putusin cewek walaupun cinta kakak hanya buat kamu tapi kakak yakin kak ratna pasti akan putusin kakak”. Ucap kak rio
Beberapa hari kemudian disaat matahari masih malu-malu memancarkan sinarnya kak rio menelepon vivi yang baru saja bangun.
“ada apa kak?”
“vi kakak baru di putusin sama kak ratna tadi malam”
“kak rio gak bohong kan?”
“beneran vi kak rio gak bohong, kak rio berharap vivi mau menerima cintanya kakak dan menerima kakak jadi pacarnya vivi.. PLEASE!!” ucap kak rio dengan nada memelas
Mendengar itu vivi diam sejenak. Ia tak bisa membohongi perasaannya kalau sampai detik ini vivi masih sayang sama kak rio dan akhinya vivi pun menerima cinta kak rio.
“ternyata keajaiban itu ada buat kita yang percaya ya kak. Akhirnya telah sekian lama tuhan mengizinkan kita bersama.” Ucap vivi
“kamu benar vi, ternyata tuhan mengabulkan doa kakak selama ini supaya bisa bersama kamu”
Kegembiraan pun tak dapat di sembunyikan di antara keduanya.
“cinta itu bagai fatamorgana di siang hari tak pernah bisa di tebak. Akhirnya cinta kita indah pada waktunya yah vi!” ucap kak rio


Cerpen Karangan: Reni Suryani